Pemerintah Tak Perpanjang Insentif Bea Masuk Nol Persen untuk Mobil Listrik hingga 2026
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengumumkan bahwa insentif bea masuk nol persen untuk mobil listrik tidak akan diperpanjang hingga tahun 2026.
Baca juga: Apple Siapkan iPhone 17 Series Tanpa Slot SIM Tray: Ini yang Perlu Diketahui
Keputusan ini diambil untuk mendukung pengembangan mobil nasional dan memperkuat industri otomotif dalam negeri.
Airlangga Hartarto menyatakan bahwa keputusan untuk tidak memperpanjang insentif, yang berakhir pada 31 Desember 2025, dirancang untuk memberi perhatian lebih pada pengembangan mobil nasional.
Dalam konteks ini, anggaran yang selama ini digunakan untuk insentif akan dialihkan ke program yang mendukung kemajuan industri otomotif lokal.
Dia menambahkan, "Anggaran insentif mobil listrik mau dialihkan ke mana? Anggarannya tentu kita punya perencanaan mobil nasional," menunjukkan komitmen pemerintah untuk fokus pada industri dalam negeri.
Pemberian insentif dalam bentuk penghapusan bea masuk nol persen untuk impor unit completely built up (CBU) mobil listrik telah berlaku sejak Februari 2024 dan akses ini telah dimanfaatkan oleh enam perusahaan otomotif.
Baca juga: Tantangan Workout 30 Hari Tanpa Alat: Menjaga Kebugaran di Rumah
Perusahaan-perusahaan seperti BYD, VinFast, dan Geely merupakan beberapa yang telah meraih manfaat dari insentif ini, dan mereka diwajibkan untuk memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) ketika produksi dimulai pada tahun 2026.
Apabila mereka gagal memenuhi syarat tersebut, pemerintah berhak mengambil Bank Garansi untuk mengatasi utang produksi terkait program ini.
Airlangga menegaskan pentingnya kepatuhan dari para produsen dengan menyatakan, "Pemerintah sudah memberikan berbagai insentif, jadi mereka tinggal buat (mendirikan pabrik)," mengingatkan pelaku industri agar segera memenuhi komitmen mereka dalam pembangunan pabrik di Indonesia.
Menyoroti pentingnya produsen otomotif yang telah mendapatkan insentif, Airlangga mendorong mereka untuk segera melaksanakan komitmen investasi di Indonesia.
Dia merujuk pada VinFast sebagai contoh yang telah berhasil melakukan investasi sekaligus membangun pabrik, serta diharapkan dapat dijadikan acuan bagi produsen lainnya.
"Existing, dan VinFast bisa melakukan kedua-duanya (investasi dan membuat pabrik)," ungkapnya, menegaskan potensi industri otomotif nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: