Spotify, platform streaming musik terkemuka, baru saja menjadi sasaran pembajakan besar-besaran yang mengancam integritas datanya.
Baca juga: Denza D9: MPV Mewah dengan Teknologi Canggih Meluncur di China
Kelompok aktivis Anna’s Archive mengklaim berhasil menyalin metadata ratusan juta lagu serta puluhan juta file audio.
Detail Insiden Pembajakan
Kejadian ini pertama kali terungkap melalui blog Anna's Archive, yang menyebutkan bahwa mereka telah mengumpulkan sekitar 256 juta baris metadata dan 86 juta file audio.
Sampai saat ini, hanya metadata yang dipublikasikan, dan file audio utuh belum disebarkan secara langsung.
Data yang dibajak berukuran hampir 300 terabyte dan direncanakan akan didistribusikan melalui jaringan peer-to-peer (P2P) dalam bentuk torrent.
Baca juga: Menciptakan Suasana Nyaman untuk Tidur Berkualitas Melalui Fengshui
Tanggapan dari Spotify
Spotify telah mengonfirmasi bahwa telah terjadi akses ilegal ke sistem mereka melalui metode scraping metadata publik.
Juru bicara Spotify menjelaskan bahwa pihak ketiga menggunakan metode ilegal untuk melewati perlindungan manajemen hak digital (DRM) dalam mengakses beberapa file audio.
Perusahaan ini menanggapi insiden dengan menonaktifkan akun-akun yang terlibat dan berkomitmen untuk meningkatkan sistem keamanannya.
Dampak dan Potensi Riskan
Insiden pembajakan ini mengundang perhatian luas, terutama tentang potensi bahaya bagi industri musik.
CEO Third Chair, Yoav Zimmerman, menyatakan bahwa data yang berhasil diakses bisa digunakan untuk menciptakan layanan setara dengan 'Spotify gratis' jika ada kapasitas infrastruktur yang cukup.
Meski Spotify mengklaim memiliki katalog lebih besar dibandingkan yang dibajak, khawatirnya tetap terjadi di kalangan artis terkait perlindungan hak cipta.
Baca juga: Destinasi Terbaik untuk Menyaksikan Sunset di Indonesia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: