Jumat, 02 JANUARI 2026 • 14:35 WIB

Donald Trump Klarifikasi Kesehatannya dan Penyebab Memar di Tangan

Author

Donald Trump Klarifikasi Kesehatannya dan Penyebab Memar di Tangan

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menjelaskan bahwa memar di tangannya disebabkan oleh penggunaan aspirin harian.

Baca juga: Sherina Munaf Selamatkan Kucing dari Rumah Uya Kuya yang Terlibat Insiden Perampokan

Dalam sebuah wawancara, Trump menegaskan bahwa kondisi kesehatannya baik meski ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan.

Klarifikasi Mengenai Pemindaian Medis

Dalam wawancara yang diterbitkan pada 2 Januari 2026, Trump menjelaskan bahwa pemindaian medis yang dijalani bukanlah MRI, melainkan pemindaian CT yang lebih cepat.

Dia menekankan, 'Apa pun yang mereka analisis, mereka menganalisisnya dengan baik, dan mereka mengatakan bahwa saya memiliki hasil sebaik yang pernah mereka lihat.'

Klarifikasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai transparansi dalam kesehatan presiden, terutama mengingat usianya yang kini 79 tahun.

Pada awal masa jabatannya, pertanyaan tentang kesehatannya semakin banyak dibahas di ruang publik.

Penggunaan Aspirin dan Penjelasan Memar

Trump mengungkapkan bahwa memar yang ada di tangannya adalah akibat dari aspirin yang dikonsumsinya setiap hari untuk mengencerkan darah.

Baca juga: Tips Menjaga Kesehatan Mata di Era Digital

Ia menyatakan, 'Saya tidak ingin darah kental mengalir melalui jantung saya,' menyinggung aksesnya terhadap perawatan medis yang intens.

Selain penggunaan aspirin, Trump juga mengatakan bahwa beberapa memar mungkin diakibatkan oleh insiden sesaat, seperti ketika Jaksa Agung AS, Pam Bondi, tanpa sengaja memukul tangannya saat memberikan tos.

Pernyataan ini menyoroti bagaimana penjelasan sederhana bisa meredakan spekulasi tentang kondisi kesehatan seorang pemimpin.

Respon terhadap Tuduhan Tertidur dalam Acara Publik

Menanggapi tuduhan bahwa dia tertidur selama rapat di Ruang Oval, Trump membantah keras dan menjelaskan bahwa dirinya hanya sedang dalam keadaan relaksasi.

'Saya tidak pernah menjadi orang yang banyak tidur,' ungkapnya dalam wawancara tersebut.

Ia menambahkan bahwa momen tersebut diambil ketika ia berkedip, yang kemudian diinterpretasikan media seolah ia tertidur.

Hal ini menunjukkan bagaimana citra publik seorang presiden sering kali tergantung pada narasi dan interpretasi media yang mungkin tidak akurat.

Baca juga: Olahraga Teratur dan Kesehatan Jantung: Pentingnya Aktivitas Fisik

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU