Fenomena makanan viral semakin merajai dunia kuliner di Indonesia, namun banyak konsumen melaporkan cepat merasa bosan setelah mencobanya.
Baca juga: Desta Dukung Tuntutan 17+8 Menyusul Hujaan di Media Sosial
Kejenuhan ini menjadi isu menarik untuk dianalisis, terutama melihat dampak sosial dan ekonomi dari tren makanan yang kerap berubah-ubah.
Kejenuhan Rasa
Salah satu penyebab utama mengapa makanan viral cepat membosankan adalah kejenuhan rasa. Ketika sebuah makanan menjadi terkenal, biasanya rasa yang ditawarkan juga cukup standar dan mudah ditemukan di tempat lain.
Sebagian besar makanan viral dirancang untuk menarik perhatian visual melalui cetakan unik atau warna-warna cerah, bukan untuk menawarkan keunikan rasa yang berkelanjutan. Hal ini mengakibatkan konsumen tidak mendapatkan pengalaman baru setelah mencobanya sekali.
Berkali-kali mencicipi rasa yang sama cenderung membuat seseorang merasa tidak tertantang, sehingga minat untuk mencobanya lagi berkurang. Selain itu, rasa yang telah terkenal lebih mudah dilupakan ketimbang yang baru atau unik.
Baca juga: Peluncuran Realme Chill Fan Phone dengan Baterai 15.000 mAh di 828 Global Fan Festival 2025
Faktor Sosial dan Ekspektasi
Makanan viral sering kali banyak diperbincangkan di media sosial, menciptakan ekspektasi tinggi dari para penggemar. Namun, realita yang tidak sesuai harapan sering kali menimbulkan kekecewaan.
Makanan yang terlihat menggoda dalam foto sering kali tampak kurang menarik saat dinikmati secara langsung. Perbedaan kualitas antara harapan dan kenyataan dapat berkontribusi pada rasa frustrasi yang dirasakan konsumen.
Ditambah lagi, adanya fenomena ‘FOMO’ (Fear of Missing Out) menambah keinginan untuk mencoba makanan tertentu dengan cepat. Namun, setelah tren berangsur pudar, minat untuk mencicipi makanan yang sama juga ikut hilang, turut mempercepat kejenuhan.
Ketersediaan dan Jangkauan
Ketersediaan makanan viral sangat mempengaruhi pengalaman konsumen. Dengan banyaknya tempat yang menjual makanan serupa, konsumen sering merasa terbombardir oleh pilihan.
Makanan yang sebelumnya terlihat langka dan eksklusif kini menjadi mudah diakses, sehingga kualitas dan daya tariknya mulai memudar. Keberadaan berbagai variasi membuat produk tersebut terlihat lebih murah.
Konsumen sering menginginkan pengalaman kuliner yang lebih unik atau berbeda dari yang telah ada. Namun, ketika suatu makanan terlampau banyak dipasarkan, kesan tersebut mulai kehilangan maknanya dan terasa monoton.
Baca juga: Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Rutin untuk Menjaga Kesehatan Optimal
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: