Kritik Terhadap Stand-Up Comedy Pandji Pragiwaksono: Budaya Toraja atau Batasan Humor?
Komika Pandji Pragiwaksono menghadapi protes keras setelah menyentuh budaya Toraja dalam penampilannya yang terbaru.
Baca juga: Kemenperin: Izin Penjualan iPhone 17 Belum Diterima, Investasi Apple Tetap Berjalan
Masyarakat Toraja menuntut permintaan maaf terkait pernyataannya yang dinilai telah menyinggung adat dan tradisi setempat.
Amson Padolo, ketua PMTI Makassar, menegaskan bahwa pernyataan Pandji membuat luka mendalam di hati masyarakat Toraja. Ia mengatakan, 'Kami sangat menyayangkan seorang tokoh publik berpendidikan seperti Pandji menjadikan adat Toraja sebagai bahan lelucon.'
Pandji dianggap telah menyebarkan penilaian yang keliru dengan menyebut masyarakat Toraja dijadikan miskin karena pesta adat.
Klaim ini memicu protes, terutama terkait konsep dan makna dari tradisi yang dijalankan oleh masyarakat Toraja.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor dengan Transfer Alexander Isak
Bagi masyarakat Toraja, tradisi Rambu Solo tidak hanya sekadar pesta, melainkan sebuah penghormatan terakhir kepada orang-orang yang telah meninggal. Amson menjelaskan, 'Esensi Rambu Solo itu penghormatan kepada orang tua atau kerabat yang telah meninggal.'
Tradisi ini menggambarkan nilai-nilai kekerabatan yang kuat dan semangat gotong royong di antara anggota komunitas.
Lebih lanjut, upacara tersebut juga menunjukkan adanya akulturasi antara ajaran Aluk Todolo dan nilai-nilai kekristenan yang dianut masyarakat.
Amson mengingatkan bahwa sebagai seorang tokoh publik, Pandji perlu memahami konteks budaya sebelum mengeluarkan lelucon yang dapat melukai perasaan. 'Kami menuntut Pandji meminta maaf secara terbuka,' tegasnya, menyoroti pentingnya tanggung jawab moral para publik figur.
Protes ini bukan hanya berkaitan dengan satu suku, tetapi merupakan panggilan untuk semua agar lebih berhati-hati dalam memperlakukan budaya orang lain, bahkan dalam konteks humor.
Masyarakat berharap agar insiden ini menjadi pelajaran untuk semua pihak tentang etika dalam berbicara mengenai budaya yang berbeda.
Baca juga: Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Kesibukan Sehari-hari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: