Trem pernah menjadi moda transportasi yang penting di kota-kota besar Indonesia, khususnya Surabaya dan Jakarta. Namun, seiring berjalannya waktu, kehadirannya perlahan menguap dari peta transportasi urban.
Baca juga: Desta Dukung Tuntutan 17+8 Menyusul Hujaan di Media Sosial
Sejarah trem di Indonesia mencerminkan perjalanan menarik yang dimulai pada era kolonial Belanda dan kini menghadapi tantangan dalam mempertahankan relevansinya di era modern. Dampaknya tidak hanya terlihat pada mobilitas masyarakat, tetapi juga membentuk lanskap kota-kota tersebut.
Awal Mula Trem di Indonesia
Trem pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada era penjajahan Belanda sekitar akhir abad ke-19. Moda transportasi ini dirancang untuk melayani penduduk perkotaan dan meningkatkan konektivitas antar wilayah.
Pada tahun 1884, trem listrik pertama kali dioperasikan di Surabaya, diikuti Jakarta yang mulai mengadopsi sistem yang sama beberapa tahun kemudian. Keberadaan trem saat itu sangat penting karena mampu mengangkut penumpang dalam jumlah besar dengan efisiensi tinggi.
Kehadiran trem di perkotaan Indonesia menunjukkan kemajuan teknologi yang dihadirkan oleh kolonial Belanda, serta mempercepat urbanisasi dengan menyediakan aksesibilitas lebih baik bagi masyarakat.
Baca juga: Apple Siapkan iPhone 17 Series Tanpa Slot SIM Tray: Ini yang Perlu Diketahui
Perkembangan dan Popularitas Trem
Dari awal penggunaannya, trem cepat mendapatkan popularitas di kalangan warga kota. Jaringan trem yang luas di Surabaya dan Jakarta memungkinkan penduduk untuk berpindah tempat dengan lebih cepat dan nyaman.
Selama dekade 1930-an, sistem trem mencapai puncak penggunaannya, dengan rute yang membentang melewati berbagai kawasan penting. Hal ini membuat trem menjadi moda transportasi yang sangat diandalkan oleh masyarakat.
Namun, seiring bertambahnya jumlah kendaraan bermotor, ketergantungan terhadap trem mulai berkurang. Pada tahun 1960-an, perhatian lebih difokuskan pada perkembangan transportasi darat lainnya, seperti bus dan mobil pribadi.
Trem yang Hilang dan Kenangan yang Tersisa
Pada akhir dekade 1970-an, trem secara resmi dihentikan operasionalnya di Jakarta dan Surabaya. Faktor-faktor seperti mahalnya biaya pemeliharaan dan peningkatan lalin menjadi alasan utama penutupan sistem ini.
Meskipun sudah tidak beroperasi, jejak trem masih dapat ditemukan dalam bentuk rel yang tersisa serta bangunan yang dulunya menjadi stasiun. Sementara itu, sejumlah warga masih mengenang masa-masa ketika trem menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan perkotaan.
Seiring berkembangnya inisiatif untuk mengembalikan moda transportasi berkelanjutan, beberapa pihak mulai mengusulkan untuk menghidupkan kembali sistem trem. Meskipun demikian, tantangan besar masih menghadang terkait pembiayaan dan infrastruktur yang dibutuhkan.
Baca juga: Kecerdasan Buatan: Inovasi Baru dalam Perawatan Keguguran
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: