Bulan akan memancarkan cahaya paling terang dan terbesar pada 4 November 2025, sebuah fenomena yang dikenal sebagai supermoon yang kedua dalam rangkaian tiga supermoon tahun ini.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor dengan Transfer Alexander Isak
Dinamakan 'beaver moon', istilah ini berasal dari tradisi masyarakat adat Amerika Utara yang menunjukkan waktu bagi berang-berang membangun sarang menjelang musim dingin.
Definisi dan Proses Supermoon
Supermoon terjadi ketika bulan purnama berada pada titik perigee, jarak terdekat bulan dengan Bumi dalam orbit elips. Pada purnama 4 November 2025, bulan akan berada sekitar 27.000 km lebih dekat dari rata-rata orbitnya.
Hal ini membuat bulan tampak 7% lebih besar dan 16% lebih terang dibandingkan dengan bulan purnama biasa. Cahayanya yang intens bisa menciptakan bayangan samar dan menerangi malam dari senja hingga fajar.
Ahli astronomi juga mencatat bahwa meskipun perbedaan ukuran bulan sulit diamati dengan mata telanjang, kecerahan bulan akan memberikan penampakan optimal bagi pengamat di seluruh dunia.
Baca juga: Sherina Munaf Selamatkan Kucing dari Rumah Uya Kuya yang Terlibat Insiden Perampokan
Jadwal dan Cara Mengamati
Fenomena ini dapat disaksikan di Indonesia pada Rabu, 5 November 2025, dengan puncak fase purnama yang terjadi pada pukul 20.19 WIB. Pada saat itu, jarak Bumi ke bulan tercatat 356.980 km.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa pengamat dapat mulai melihat fenomena ini setelah bulan terbit pada sore menjelang malam. Ukuran semi-diameter bulan saat itu diprediksi mencapai 16' 43,87", menjadikannya lebih besar dan terang dibanding purnama biasa.
Setelah purnama, bulan akan mencapai titik perigee pada Kamis, 6 November 2025, pukul 05.28 WIB, dengan jarak 356.833 km, yang merupakan jarak terdekat bulan ke Bumi dalam tahun 2025.
Fenomena Astronomi Lainnya
Selama malam supermoon, bulan akan berada di rasi bintang Taurus. Cahayanya yang terang akan menutupi bintang-bintang di sekitarnya, namun penggunaan ibu jari atau teropong dapat membantu pengamat melihat bintang Aldebaran.
Gugus bintang Pleiades juga akan tampak membentuk segitiga langit bersamaan dengan bulan dan Aldebaran, menambahkan keindahan malam bagi para pengamat.
Fenomena serupa berikutnya baru akan terjadi pada 24 November 2026, saat 'beaver moon' mencapai orbit yang serupa, memberi kesempatan lain untuk menikmati pesona langit malam.
Baca juga: Rumah Uya Kuya Dijerang Massa, Permintaan Maaf Tercetus
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: