Sabtu, 21 FEBRUARI 2026 • 15:10 WIB

Kontroversi Penjualan Kurma Israel: Isu Labeling Memicu Ketegangan di Pasar Global

Author

Kontroversi Penjualan Kurma Israel: Isu Labeling Memicu Ketegangan di Pasar Global

Pasar kurma global kini menjadi sorotan tajam terkait tuduhan penjualan kurma asal Israel yang disamarkan melalui label berbeda. Praktek ini, yang dikenal dengan istilah 'date laundering', berpotensi melanggar regulasi pelabelan yang ditetapkan oleh Uni Eropa.

Baca juga: Sherina Munaf Selamatkan Kucing dari Rumah Uya Kuya yang Terlibat Insiden Perampokan

Tuduhan ini berfokus pada produk kurma dari permukiman di Tepi Barat yang diduga masuk ke pasar Eropa melalui jalur logistik yang tidak jelas. Isu ini menimbulkan keresahan di kalangan konsumen, terutama dengan meningkatnya kesadaran akan sumber etis produk.

Perkembangan Pasar Kurma Global

Pasar kurma global diperkirakan mencapai nilai sebesar US$32,7 miliar pada tahun 2025, dengan prospek peningkatan menjadi US$34,5 miliar pada tahun 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh tingginya permintaan di kawasan Timur Tengah dan Afrika yang kini mendominasi lebih dari 85% pangsa pasar dunia.

Mesir dikenal sebagai penghasil kurma terbesar dengan produksi lebih dari 1,7 juta ton per tahun. Sementara itu, Israel turut aktif dalam ekspor jenis kurma premium seperti Medjool, meskipun dengan volume produksi yang relatif lebih kecil dibandingkan negara-negara lainnya.

Baca juga: Denza D9: MPV Mewah dengan Teknologi Canggih Meluncur di China

Transparansi dalam Distribusi Kurma

Data menunjukkan bahwa Israel mengekspor sekitar 35.000 ton kurma per tahun, di mana hanya 8.800 ton yang berasal dari wilayah yang diakui secara internasional. Hal ini memunculkan pertanyaan serius mengenai transparansi distribusi kurma dari permukiman yang dianggap ilegal berdasarkan hukum internasional.

Pihak berwenang Uni Eropa mengharuskan produk dari permukiman untuk mencantumkan label yang jelas guna menghindari penipuan terhadap konsumen. Dengan meningkatnya kesadaran akan sumber etis, para produsen dihadapkan pada tekanan yang lebih besar untuk mematuhi regulasi ini.

Dampak Kampanye Boikot terhadap Pertanian Israel

Di tengah konflik yang berkepanjangan di Gaza, Israel mengalami tekanan yang signifikan dari kampanye boikot yang semakin meluas, terutama di Eropa. Beberapa peritel seperti Co-op di Inggris telah mulai menghentikan pengadaan produk dari Israel sebagai bentuk respons terhadap kampanye tersebut.

Tantangan yang dialami sektor pertanian Israel mencakup gangguan logistik serta dampak ekonomi dari boikot global, meskipun permintaan kurma menjelang bulan Ramadan tetap tinggi. Dampak ini membawa isu baru terkait kelangsungan kegiatan pertanian di wilayah tersebut.

Baca juga: Rumah Uya Kuya Dijerang Massa, Permintaan Maaf Tercetus

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU