Jumat, 13 MARET 2026 • 16:28 WIB

Menelusuri Jejak Monumen Yonaguni di Dasar Laut Jepang

Author

Menelusuri Jejak Monumen Yonaguni di Dasar Laut Jepang

Penemuan Monumen Yonaguni di dasar laut Jepang pada tahun 1986 telah memikat perhatian banyak pihak, termasuk para ilmuwan dan peneliti. Struktur yang terletak 25 meter di bawah permukaan laut ini memiliki formasi batuan yang unik dan tampak menyerupai tangga serta piramida.

Baca juga: Rumah Uya Kuya Dijerang Massa, Permintaan Maaf Tercetus

Asal Usul dan Penemuan Monumen

Kihachiro Aratake, seorang penyelam yang juga direktur asosiasi pariwisata lokal, menemukan Monumen Yonaguni saat mencari titik penyelaman. Dalam sebuah wawancara dengan BBC, Aratake menceritakan, "Sekitar 35 tahun yang lalu, saat saya sedang mencari titik penyelaman, saya menemukannya secara kebetulan."

Setelah penemuan itu, ia mengungkapkan bahwa struktur ini lebih dari sekadar formasi alam, "Saya sangat emosional ketika menemukannya. Setelah menemukannya, saya menyadari bahwa ini akan menjadi harta karun Pulau Yonaguni."

Baca juga: Kejadian Penjarahan Rumah Uya Kuya: Imbas Video Viral dan Permintaan Maaf yang Disampaikan

Teori dan Hipotesis Mengenai Struktur

Setelah penemuan tersebut, Aratake berkoordinasi dengan ilmuwan dari Universitas Ryūkyūs untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. Masaaki Kimura, seorang ahli biologi kelautan, berpendapat bahwa Monumen Yonaguni merupakan bagian dari benua Mu yang hilang, yang dihubungkan dengan teori Lemuria.

Beberapa ahli berpendapat bahwa struktur ini dihasilkan antara 10.000 hingga 14.000 tahun yang lalu, melacak kembali ke zaman sebelum peradaban yang dikenal. Teori ini juga sering dihubungkan dengan legenda Atlantis, menambah kompleksitas cerita di balik monumen ini.

Pandangan dari Ahli Geologi

Berbeda dengan hipotesis yang mendukung gagasan bahwa Monumen Yonaguni adalah buatan manusia, banyak ahli geologi justru memandangnya secara skeptis. Robert Schoch, profesor di Boston University, mengatakan, "Saya tidak yakin bahwa salah satu fitur atau struktur utama adalah tangga atau teras buatan manusia, tetapi semuanya alami."

Schoch berpendapat bahwa struktur ini kemungkinan besar adalah hasil dari proses geologi alami, menjelaskan dengan lebih lanjut tentang dasar stratigrafi dan fenomena alam yang membentuknya. "Di permukaan, saya juga menemukan cekungan dan rongga yang terbentuk secara alami yang tampak persis seperti 'lubang tiang' yang diduga oleh beberapa peneliti," tambahnya.

Baca juga: Manfaat Asam Hialuronat untuk Kulit: Apa yang Perlu Diketahui

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU