BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Senin, 27 OKTOBER 2025 • 15:11 WIB

Fenomena Quiet Quitting: Tantangan Keseimbangan Kerja di Era Modern

Author

Fenomena Quiet Quitting: Tantangan Keseimbangan Kerja di Era ModernFenomena Quiet Quitting: Tantangan Keseimbangan Kerja di Era Modern

Fenomena 'quiet quitting' atau pengunduran halus semakin menarik perhatian di dunia kerja pasca-pandemi COVID-19. Banyak karyawan melibatkan diri dalam sikap ini sebagai bentuk protes terhadap ekspektasi yang tinggi di tempat kerja.

Baca juga: Tips Menciptakan Kamar Kecil yang Nyaman dan Menyenangkan

Sikap ini mencerminkan ketidakpuasan terhadap keseimbangan kehidupan kerja dan menunjukkan bahwa banyak pekerja kini mencari cara untuk melindungi kesehatan mental mereka di tengah tekanan yang meningkat.

Definisi dan Konteks Quiet Quitting

Quiet quitting adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sikap di mana karyawan melakukan pekerjaan dalam batas minimal yang dibutuhkan tanpa berusaha lebih jauh. Fenomena ini muncul seiring meningkatnya tekanan di dunia kerja dan harapan yang sering kali dianggap tidak realistis dari para majikan.

Di Indonesia, fenomena ini menjadi lebih relevan pasca-pandemi, di mana banyak pekerja merasa terbebani dengan tuntutan yang semakin bertambah. 'Quiet quitting' menjadi cara bagi karyawan untuk mundur dan melindungi diri dari kemungkinan burnout.

Menurut penelitian terbaru, sekitar 40% karyawan di tanah air merasa tidak puas dengan kondisi kerja mereka. Angka ini menunjukkan adanya budaya kerja yang perlu ditangani agar karyawan dapat merasa lebih nyaman dan terlibat.

Baca juga: Sherina Munaf Selamatkan Kucing dari Rumah Uya Kuya yang Terlibat Insiden Perampokan

Sebab dan Dampak Terhadap Pekerja dan Perusahaan

Beberapa alasan yang menyebabkan meningkatnya fenomena quiet quitting antara lain adalah ketidakpuasan terhadap kompensasi dan pengakuan dari perusahaan. Karyawan yang merasa kurang dihargai cenderung menarik diri dari keterlibatan aktif di tempat kerja.

Dampak dari fenomena ini tidak hanya dirasakan oleh pekerja, tetapi juga oleh perusahaan. Keengganan karyawan untuk berkontribusi secara maksimal dapat mengakibatkan penurunan produktivitas dan inovasi dalam organisasi.

Banyak perusahaan kini menyadari perlunya perubahan dalam manajemen tim. Menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan transparan menjadi langkah penting dalam menangani masalah ini.

Cara Perusahaan Menghadapi Fenomena Quiet Quitting

Perusahaan sebaiknya menerapkan pendekatan yang lebih baik dalam mendengarkan suara karyawan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan survei kepuasan kerja secara berkala untuk memahami kebutuhan dan harapan karyawan.

Selain itu, penting untuk memberikan pengakuan yang lebih bagi karyawan atas kontribusi mereka. Pengenalan program penghargaan dan insentif dapat mendorong karyawan untuk lebih terlibat.

Karyawan juga berhak mendapatkan jaminan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Fleksibilitas dalam jam kerja dan opsi kerja jarak jauh dapat menjadi solusi yang baik untuk mencegah fenomena quiet quitting ini.

Baca juga: WhatsApp Perbaiki Bug Keamanan yang Berpotensi Curi Data Pengguna Apple

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Fenomena Quiet Quitting: Tantangan Keseimbangan Kerja di Era Modern

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!