Penemuan Virus Corona Baru pada Kelelawar di Brasil: Implikasi dan Tantangan
Para ilmuwan baru saja mengidentifikasi virus corona baru bernama BRZ batCoV yang ditemukan pada kelelawar di Brasil, menunjukkan kesamaan genetik dengan SARS-CoV-2, penyebab COVID-19.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor dengan Transfer Alexander Isak
Penemuan ini mengisyaratkan bahwa virus tersebut mungkin telah beredar selama ini tanpa terdeteksi, terutama mengingat terbatasnya aktivitas pengambilan sampel di kawasan Amerika Latin.
Penelitian oleh Departemen Virologi Molekuler Universitas Osaka, Jepang, menemukan bahwa virus BRZ batCoV terdeteksi pada spesies kelelawar berjanggut yang banyak ditemukan di berbagai kawasan Amerika Latin.
Analisis genetik yang dilakukan menunjukkan bahwa virus ini memiliki situs pemotongan furin, serupa dengan SARS-CoV-2, yang berperan penting dalam memungkinkan virus memasuki sel manusia.
Kekhawatiran mengenai asal-usul SARS-CoV-2 muncul di tengah spekulasi bahwa virus tersebut mungkin telah direkayasa di laboratorium, namun penemuan ini menimbulkan pertanyaan lebih lanjut mengenai evolusi virus secara alami.
Baca juga: Realme Luncurkan Smartphone dengan Baterai Jumbo dan Teknologi Pendingin Terbaru
Dr. Kosuke Takada, salah satu penulis makalah, menjelaskan bahwa fitur molekuler serupa dapat muncul secara independen pada berbagai garis evolusi virus, yang menunjukkan kemampuan virus untuk berkembang melalui proses alami.
Pentingnya pemahaman tentang evolusi virus dibahas lebih lanjut oleh Takada, yang menyatakan bahwa karakteristik tertentu dapat muncul dalam konteks yang berbeda.
Prof. Stuart Neil dari King's College London menggarisbawahi bahwa penemuan situs pemotongan furin di luar SARS-CoV-2 bukanlah hal baru, menegaskan perlunya penelitian lanjutan untuk memahami bagaimana virus-virus ini berevolusi dan menyebar.
Penemuan virus baru ini membuka peluang untuk meningkatkan pengawasan terhadap satwa liar di kawasan Brasil, dengan harapan dapat mengungkap berbagai virus lain yang berpotensi menular ke manusia.
Menurut Prof. David Robertson dari University of Glasgow, kemunculan situs pemotongan furin pada virus corona bukanlah hal yang mengejutkan, mengingat bagian genom virus ini dikenal adapif dan mudah berubah.
Diperlukan peningkatan penelitian dan pengawasan terhadap virus-virus di satwa liar sebagai langkah preventif terhadap kemungkinan pandemi di masa depan.
Baca juga: Aksi Nekat Pria Berjaket Ojol Mengguncang Stasiun Cikini
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: