BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Jumat, 14 NOVEMBER 2025 • 16:14 WIB

Memahami Toxic Positivity: Fenomena dan Dampaknya

Memahami Toxic Positivity: Fenomena dan DampaknyaMemahami Toxic Positivity: Fenomena dan Dampaknya

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah 'toxic positivity' semakin sering terdengar di tengah masyarakat. Fenomena ini merujuk pada kondisi di mana optimisme yang berlebihan justru menjadi tidak sehat dan dapat merugikan individu.

Baca juga: Aksi Nekat Pria Berjaket Ojol Mengguncang Stasiun Cikini

Masyarakat sering kali dihadapkan pada ekspektasi untuk selalu merasa positif, meskipun ada banyak momen sulit yang perlu dihadapi dengan jujur dan terbuka.

Apa itu Toxic Positivity?

Toxic positivity adalah sikap yang menekankan bahwa kita harus selalu berpikir positif, meskipun situasi tidak mendukung. Ini sering kali muncul dalam bentuk ungkapan seperti 'Cobalah untuk tetap positif!' atau 'Berpikirlah baik-baik, segala sesuatu akan baik-baik saja!'.

Fenomena ini dapat ditemukan dalam berbagai konteks, mulai dari interaksi pribadi hingga media sosial. Hal ini sering kali menimbulkan tekanan bagi individu, menyebabkan mereka merasa tertekan karena tidak memiliki hak untuk merasakan kesedihan atau kekecewaan.

Baca juga: Sri Mulyani Serukan Cinta kepada Indonesia Meski Alami Insiden Penjarahan

Dampak Negatif dari Toxic Positivity

Meskipun didorong oleh niat baik, toxic positivity dapat menambah beban emosional pada individu. Ketika seseorang menghadapi masalah, mendengar nasihat untuk berpikir positif justru bisa membuat mereka merasa diabaikan dan tidak didengar.

Sebuah studi oleh Lisa Williams mengungkapkan bahwa individu yang mengalami toxic positivity cenderung merasa lebih terasing dan kesepian. Mereka merasa kesulitan untuk mengungkapkan perasaan sebenarnya, karena takut tidak diterima oleh lingkungan mereka.

Cara Menghadapi Toxic Positivity

Penting untuk mengakui dan menerima semua emosi yang kita rasakan, baik positif maupun negatif. Menghadapi perasaan sulit dengan cara yang sehat dapat membantu proses penyembuhan dan pertumbuhan individu.

Dukungan yang empatik kepada diri sendiri dan orang lain merupakan langkah yang lebih baik daripada mengedepankan optimisme yang tidak realistis. Alih-alih berkata, 'Semuanya akan baik-baik saja', sebaiknya ungkapkan hal seperti, 'Ini terasa sulit, tetapi kita bisa melewati ini bersama-sama.'

Baca juga: Tips Menjaga Kesehatan Mata di Era Digital

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Memahami Toxic Positivity: Fenomena dan Dampaknya

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!