BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Senin, 17 NOVEMBER 2025 • 13:22 WIB

Krisis Gagal Ginjal: Ancaman Global yang Meningkat

Krisis Gagal Ginjal: Ancaman Global yang MeningkatKrisis Gagal Ginjal: Ancaman Global yang Meningkat

Dunia saat ini tengah berhadapan dengan krisis kesehatan yang signifikan, yaitu meningkatnya kasus gagal ginjal atau Chronic Kidney Disease (CKD). Menurut data terbaru dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), jumlah orang dewasa yang hidup dengan CKD telah mencapai 788 juta pada tahun 2023.

Baca juga: Mengapa Finfluencer Penting Dalam Meningkatkan Pengetahuan Finansial

Penyakit ini kini menduduki peringkat kesembilan sebagai penyebab kematian tertinggi di dunia, dengan 1,5 juta jiwa dilaporkan meninggal akibat kondisi ini. Menariknya, lebih dari separuh penderita tidak menyadari adanya kerusakan pada ginjal mereka.

Faktor Penyebab Peningkatan Kasus CKD

Kenaikan signifikan dalam kasus CKD selama tiga dekade terakhir tidak hanya disebabkan oleh pertumbuhan populasi dan penuaan, tetapi juga oleh pola hidup modern. IHME mengidentifikasi gula darah puasa tinggi, obesitas, dan hipertensi sebagai tiga faktor risiko utama yang mempengaruhi kesehatan ginjal di hampir seluruh kelompok usia.

Walaupun diabetes dan hipertensi menjadi penyebab terbesar, studi ini menekankan bahwa CKD merupakan kondisi yang multifaktorial yang berkaitan dengan pola makan, lingkungan, dan kondisi sosial ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa berbagai aspek kehidupan masyarakat harus menjadi perhatian dalam upaya pencegahan.

Selain itu, di beberapa wilayah seperti Amerika Tengah, terdapat tren yang mencolok terkait dengan CKD of Unknown Etiology (CKDu). Kasus ini sering memengaruhi pekerja di perkebunan yang mengalami dehidrasi kronis akibat terpapar suhu ekstrem, menyoroti pengaruh perubahan iklim terhadap kesehatan ginjal.

Baca juga: Makanan Sehari-hari yang Ternyata Mengandung Gula Tersembunyi

Akses Terhadap Layanan Kesehatan yang Tidak Merata

Masalah gagal ginjal ini juga diperburuk oleh ketidakmerataan dalam akses layanan kesehatan. Di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah, meskipun prevalensi CKD tinggi, akses terhadap dialisis dan transplantasi ginjal sangat terbatas.

Kontrasnya, negara-negara kaya memiliki lebih banyak pasien yang mendapatkan terapi pengganti ginjal, meskipun prevalensi CKD di wilayah tersebut lebih rendah dari rata-rata global. Hal ini menimbulkan angka kematian yang jauh lebih tinggi di negara-negara miskin.

IHME mencatat bahwa kerusakan ginjal memengaruhi kesehatan yang lebih luas, dengan disfungsi ginjal berkontribusi terhadap 11,5% kematian akibat penyakit jantung di seluruh dunia. Ini menunjukkan betapa pentingnya kondisi ginjal dalam memengaruhi kesehatan kardiovaskular.

Pentingnya Deteksi Dini dan Kebijakan Kesehatan

IHME menekankan bahwa deteksi dini CKD adalah prioritas yang harus diperhatikan oleh semua negara. Meskipun pemeriksaan albuminuria dan pemantauan faktor risiko penting, implementasinya di banyak negara, bahkan yang berpenghasilan tinggi, masih minim.

Peneliti berharap temuan ini mendorong pemerintah untuk lebih serius memasukkan CKD dalam kebijakan kesehatan publik dan memperluas akses terhadap pengobatan yang efektif. Upaya ini dapat memperlambat kerusakan ginjal dan mencegah komplikasi terkait jantung.

Dengan kebangkitan kesadaran akan CKD, diharapkan angka kematian akibat penyakit ini dapat dikurangi melalui langkah-langkah yang lebih komprehensif dan sistematis.

Baca juga: Menciptakan Suasana Nyaman untuk Tidur Berkualitas Melalui Fengshui

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Krisis Gagal Ginjal: Ancaman Global yang Meningkat

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!