BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Sabtu, 17 JANUARI 2026 • 11:55 WIB

Pengukuran Kebahagiaan di Era Digital: Dampak Sosial Media Terhadap Kesejahteraan Mental

Pengukuran Kebahagiaan di Era Digital: Dampak Sosial Media Terhadap Kesejahteraan MentalPengukuran Kebahagiaan di Era Digital: Dampak Sosial Media Terhadap Kesejahteraan Mental

Di era digital saat ini, banyak individu merasa bahwa kebahagiaan mereka erat terkait dengan interaksi di sosial media, seperti jumlah 'like' dan komentar yang diterima.

Baca juga: Desta Dukung Tuntutan 17+8 Menyusul Hujaan di Media Sosial

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendalam mengenai sejauh mana validasi dari platform digital dapat dijadikan ukuran kebahagiaan sesungguhnya.

Sosial Media dan Kesehatan Mental

Berkaitan dengan tren penggunaan sosial media, sejumlah penelitian menunjukkan adanya koneksi signifikan antara aktivitas tersebut dan kesehatan mental. Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh American Psychological Association, risiko depresi dan kecemasan cenderung meningkat pada pengguna yang sering memeriksa akun sosial mereka.

Peningkatan risiko ini disebabkan oleh perbandingan sosial yang dialami saat melihat konten hidup 'sempurna' yang dipamerkan oleh teman atau influencer. Dalam konteks ini, pengguna sering merasa kurang berharga dibandingkan dengan citra ideal yang hadir di depan mereka.

Fenomena ini juga dapat dirujuk dengan istilah 'FOMO' atau Fear of Missing Out, yang menggambarkan kekhawatiran akan kehilangan pengalaman berharga yang terlihat lebih baik di sosial media. Hal ini menciptakan rasa tidak nyaman dan bahkan dapat berkontribusi pada gangguan emosional.

Baca juga: Apple Siapkan iPhone 17 Series Tanpa Slot SIM Tray: Ini yang Perlu Diketahui

Dari Jempol ke Perasaan

Validasi sosial di dunia maya muncul dalam berbagai bentuk, seperti 'like', komentar positif, hingga repost. Respons yang positif terhadap unggahan sering kali memberikan kebahagiaan bersifat sementara, tetapi dapat menimbulkan ketidakpastian terkait nilai suatu postingan.

Ketidakpastian ini dapat mengganggu kesehatan mental individu, di mana mereka menjadi cemas apabila postingan baru tidak mendapatkan perhatian yang sama seperti sebelumnya. Perasaan ini dapat berlanjut pada kondisi psikologis yang lebih serius jika tidak diatasi dengan baik.

Psikolog menyarankan untuk menetapkan batasan dalam penggunaan sosial media. Hal ini penting agar individu tidak terjebak dalam siklus terus-menerus mencari validasi eksternal yang pada akhirnya dapat mengarah pada ketidakpuasan.

Membangun Kebahagiaan yang Sehat

Masyarakat perlu menyadari bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya ditentukan oleh interaksi di sosial media. Menghabiskan waktu berkualitas dengan keluarga dan teman secara langsung, melakukan hobi, atau memberikan kontribusi positif kepada orang lain, dapat membawa kepuasan lebih mendalam.

Ini berfungsi sebagai langkah penting untuk mengurangi ketergantungan pada validasi yang diperoleh dari platform digital. Memahami bahwa setiap individu berharga tanpa perlu pengakuan dari orang lain di dunia maya dapat berkontribusi pada kesehatan mental yang lebih baik.

Sedari itu, kesadaran akan nilai-nilai internal dan penguatan hubungan interpersonal dapat mengarahkan individu kepada kebahagiaan yang lebih berkelanjutan dan otentik.

Baca juga: Makanan Sehari-hari yang Ternyata Mengandung Gula Tersembunyi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Pengukuran Kebahagiaan di Era Digital: Dampak Sosial Media Terhadap Kesejahteraan Mental

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!