BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Kamis, 29 JANUARI 2026 • 16:10 WIB

Dinamika Quiet Quitting: Tuntutan Kerja dan Keseimbangan Hidup di Era Modern

Dinamika Quiet Quitting: Tuntutan Kerja dan Keseimbangan Hidup di Era ModernDinamika Quiet Quitting: Tuntutan Kerja dan Keseimbangan Hidup di Era Modern

Fenomena 'quiet quitting' mencuat di tengah kesibukan dunia kerja modern, menggambarkan sikap karyawan yang memilih untuk melakukan minimum dalam pekerjaan tanpa merasa tertekan.

Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam: Apa yang Perlu Diketahui?

Bagi banyak anak muda, hal ini merefleksikan ketidakpuasan terhadap ekspektasi yang tinggi dan upaya untuk mencapai keseimbangan hidup yang lebih baik.

Definisi Quiet Quitting

Quiet quitting bukan berarti resign, melainkan lebih pada sikap untuk bekerja dalam batasan yang ditetapkan. Karyawan yang terlibat dalam fenomena ini cenderung hanya menyelesaikan tugas yang diminta tanpa berusaha lebih.

Fenomena ini berkembang seiring semakin populernya media sosial seperti TikTok dan Twitter, di mana pengguna sering berbagi pengalaman terkait beban kerja yang menumpuk. Mengabaikan tuntutan yang tidak realistis dianggap sebagai langkah untuk menjaga kesehatan mental.

Survei menunjukkan bahwa nearly 50% pekerja muda merasa terjebak dalam rutinitas monoton yang mengurangi kebahagiaan mereka, mengindikasikan ketidakpuasan, serta pencarian cara untuk menjaga semangat kerja tanpa merugikan diri sendiri.

Baca juga: Peluncuran Realme Chill Fan Phone dengan Baterai 15.000 mAh di 828 Global Fan Festival 2025

Penyebab Munculnya Quiet Quitting di Kalangan Anak Muda

Tuntutan pekerjaan yang meningkat tanpa imbalan yang sepadan menjadi salah satu penyebab utama quiet quitting. Banyak perusahaan gagal memberikan solusi untuk membantu karyawan menghadapi tekanan, yang menyebabkan frustrasi.

Situasi ekonomi yang sulit juga memperburuk keadaan, dengan banyak anak muda yang merasa terjebak dalam pekerjaan demi kelangsungan hidup. Ketidakpuasan yang muncul mendorong mereka untuk 'berhenti' secara mental.

"Anak muda saat ini lebih memilih bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja," ungkap seorang peneliti sumber daya manusia. Pandangan ini menunjukkan pergeseran fokus generasi yang lebih mengutamakan keseimbangan hidup daripada ambisi karir yang ekstrem.

Konsekuensi Quiet Quitting dalam Konteks Kerja

Dampak quiet quitting berpotensi menurunkan produktivitas dan meningkatkan turnover karyawan di sebuah perusahaan. Ketidakpedulian terhadap fenomena ini dapat mengakibatkan hilangnya banyak bakat berharga.

Namun, fenomena ini memberi kesempatan bagi perusahaan untuk lebih memperhatikan kesejahteraan karyawan. Jika ditangani dengan tepat, perusahaan berpotensi menciptakan lingkungan kerja yang lebih produktif dan memuaskan.

Untuk mengatasi isu ini, perusahaan perlu beradaptasi dengan kebutuhan karyawan, dengan menawarkan fleksibilitas dalam jadwal kerja serta meningkatkan dukungan mental untuk mengurangi rasa quiet quitting di kalangan generasi muda.

Baca juga: Tips Menjaga Kesehatan Mata di Era Digital

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Dinamika Quiet Quitting: Tuntutan Kerja dan Keseimbangan Hidup di Era Modern

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!