BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Jumat, 13 FEBRUARI 2026 • 15:41 WIB

Dampak Krisis Iklim: Hujan Ekstrem dan Siklon Tropis Meningkat di Indonesia

Dampak Krisis Iklim: Hujan Ekstrem dan Siklon Tropis Meningkat di IndonesiaDampak Krisis Iklim: Hujan Ekstrem dan Siklon Tropis Meningkat di Indonesia

Krisis iklim global mengakibatkan peningkatan frekuensi hujan ekstrem dan siklon tropis di Indonesia yang kini menjadi perhatian utama para ahli. Pihak Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa perubahan iklim memiliki kontribusi penting terhadap bencana hidrometeorologi di Tanah Air.

Baca juga: WhatsApp Perbaiki Bug Keamanan yang Berpotensi Curi Data Pengguna Apple

Peneliti dari BRIN, Eddy Hermawan, menjelaskan bahwa fenomena ini sekaligus membuka pandangan baru mengenai dampak dari perubahan iklim. Hujan dengan intensitas tinggi dan kejadian siklon tropis yang merugikan kian umum di berbagai wilayah Indonesia.

Peningkatan Intensitas Hujan dan Siklon Tropis

Eddy Hermawan, seorang Peneliti Ahli Utama di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, menegaskan bahwa hujan berintensitas tinggi merupakan akibat langsung dari krisis iklim yang tidak bisa diabaikan. "Global warming bukan lagi teori, tetapi sudah menjadi aksi nyata di atmosfer," ujar Eddy.

Fenomena siklon tropis seperti Seroja, Cempaka, dan Dahlia menunjukkan dampak serius di wilayah Jakarta dan pantai utara Jawa, di mana hujan ekstrem sering terjadi dalam kurun waktu yang singkat. Hujan yang berkepanjangan juga dipengaruhi oleh fenomena besar iklim seperti La Niña dan Indian Ocean Dipole (IOD).

'Kalau hujannya berhari-hari, itu bukan sekadar gelombang atmosfer,' jelas Eddy, menjelaskan bahwa fenomena besar ini berkontribusi terhadap pola curah hujan yang sudah tidak normal lagi.

Baca juga: Rumah Uya Kuya Dijerang Massa, Permintaan Maaf Tercetus

Pengaruh Geografis dan Angin

Indonesia terletak di jalur Asian Monsoon yang mengizinkan uap air dari wilayah Asia memasuki Jakarta, yang memiliki karakteristik dataran aluvial dan pantai landai. Menurut Eddy, "Kondisi tersebut memicu terbentuknya pusat tekanan rendah," merujuk pada faktor lokal yang memperburuk situasi saat ini.

Pusaran atmosfer yang terbentuk mengakibatkan pengurangan daya dukung lingkungan. Dalam lapisan atmosfer tertentu, angin timur dan barat yang bertemu menciptakan pusaran angin kuat, yang menyebabkan hujan lebat yang berkepanjangan di satu kawasan.

Akibatnya, Jakarta menjadi lebih rentan terhadap bencana hidrometeorologi akibat kombinasi antara hujan deras dan lanskap urban yang memiliki daya serap air yang minim.

Upaya Mitigasi dan Saran Kebijakan

Menanggapi ancaman yang dihadapi, Eddy mengemukakan pentingnya transformasi sistem peringatan dini untuk bencana hidrometeorologi. Dia juga menegaskan bahwa "pendekatan konvensional tidak lagi memadai," meminta penerapan teknologi terbaru seperti AI, big data, dan machine learning untuk meningkatkan akurasi prediksi cuaca.

Eddy berharap hasil penelitian BRIN dapat berkontribusi dalam mitigasi bencana dan perumusan kebijakan berbasis sains. Ini bertujuan untuk meningkatkan manajemen risiko hidrometeorologi yang semakin mendesak.

Dia juga menyoroti bahwa masalah banjir tidak hanya disebabkan oleh hujan deras tetapi juga oleh perubahan tutupan lahan. "Lanskap perkotaan Jakarta belum sepenuhnya siap menghadapi beban dari fenomena hidrometeorologi ekstrem," pungkasnya.

Baca juga: Destinasi Terbaik untuk Menyaksikan Sunset di Indonesia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Dampak Krisis Iklim: Hujan Ekstrem dan Siklon Tropis Meningkat di Indonesia

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!