BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Rabu, 18 FEBRUARI 2026 • 14:18 WIB

Harga Minyakita dan Ayam Jelang Ramadan Tetap Tinggi, Menjadi Sorotan Menteri Perdagangan

Harga Minyakita dan Ayam Jelang Ramadan Tetap Tinggi, Menjadi Sorotan Menteri PerdaganganHarga Minyakita dan Ayam Jelang Ramadan Tetap Tinggi, Menjadi Sorotan Menteri Perdagangan

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengonfirmasi bahwa harga sejumlah komoditas penting, termasuk Minyakita dan telur ayam, masih melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) menjelang bulan Ramadan.

Baca juga: Kota-Kota di Indonesia yang Cocok untuk Liburan Sendirian

Berdasarkan data dari Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), harga Minyakita tercatat pada Rp 16.020 per liter, melebihi HET yang ditetapkan sebesar Rp 15.700.

Tingginya Harga Minyakita

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa harga Minyakita saat ini berada pada level Rp 16.020 per liter, sedangkan HET yang sudah ditetapkan adalah Rp 15.700. "Ada memang yang di atas HET, misalnya Minyakita. Nah, Minyakita hari ini harganya Rp 16.020, HET-nya kan Rp 15.700," jelasnya dalam sebuah konferensi pers di Jakarta Pusat.

Menurut Budi, salah satu faktor yang menghambat penurunan harga Minyakita adalah proses distribusi yang masih berjalan dari produsen ke Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Ia menambahkan, "Secepatnya ya," berkomitmen untuk mengembalikan harga Minyakita ke level normal.

Masyarakat diharapkan tetap memantau harga dan tidak terjebak dalam informasi yang tidak akurat, khususnya menjelang bulan suci Ramadan, ketika kebutuhan akan komoditas pangan meningkat.

Baca juga: Tips Menciptakan Kamar Kecil yang Nyaman dan Menyenangkan

Kondisi Harga Telur Ayam

Harga telur ayam saat ini menyentuh angka Rp 30.750 per kilogram, jauh di atas HET yang ditetapkan sebesar Rp 30.000. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat menjelang Ramadan.

Meskipun harga telur mengalami lonjakan, Budi menyatakan bahwa harga komoditas pangan lainnya masih dalam kategori stabil dan berada di bawah harga acuan. "Misalnya daging sapi, ini rata-rata nasional Rp 133.618. Harga acuannya atau harga eceran tertingginya itu Rp 140.000," tutur Budi.

Kondisi ini menciptakan kesenjangan di pasar dan menjadi topik diskusi hangat, terutama di media dan antara masyarakat yang mulai merasakannya.

Transparansi Data Harga

Untuk membangun kepercayaaan publik, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan menekankan pentingnya transparansi data harga. Budi menjelaskan bahwa data harga dapat diakses publik melalui sistem SP2KP, yang memungkinkan masyarakat untuk memantau perkembangan harga dengan lebih baik.

"Yang lain-lain bagus. Misalnya daging sapi, harga rata-rata nasional Rp 133.618. Bawang putih itu harga rata-rata nasional Rp 36.875," ucap Budi, menambahkan bahwa data ini penting untuk memahami dinamika pasar.

Dengan adanya akses informasi yang lebih baik, diharapkan masyarakat dapat membuat keputusan yang lebih bijak saat berbelanja menjelang Ramadan.

Baca juga: Tips Ampuh untuk Mencegah Cedera Saat Berolahraga

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Harga Minyakita dan Ayam Jelang Ramadan Tetap Tinggi, Menjadi Sorotan Menteri Perdagangan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!