Deforestasi di Indonesia kembali menjadi fokus perhatian setelah banjir dan longsor melanda Sumatera, menunjukkan dampak serius dari hilangnya hutan.
Baca juga: Tips Menciptakan Kamar Kecil yang Nyaman dan Menyenangkan
Data terbaru menunjukkan Indonesia menempati urutan lima di dunia dalam hal kehilangan hutan, meskipun laju penurunan deforestasi terlihat dalam beberapa tahun terakhir.
Deforestasi Indonesia: Data dan Statistik
Menurut data dari Global Forest Watch (GFW), Indonesia kehilangan sekitar 1,1 juta hektare tutupan pohon di tahun 2024, menjadikannya salah satu negara dengan tingkat kehilangan hutan tertinggi.
Lima provinsi utama yang mengalami deforestasi terbesar adalah Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Timur.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat kebijakan untuk meminimalkan kerusakan, tekanan terhadap hutan tetap signifikan dan menyisakan pertanyaan tentang keberlanjutan hutan Indonesia.
Baca juga: Kecerdasan Buatan: Inovasi Baru dalam Perawatan Keguguran
Kalimantan: Fokus Deforestasi
Kalimantan menjadi wilayah yang menyumbang deforestasi yang signifikan dalam skala nasional, dengan data Kementerian Kehutanan menunjukkan angka deforestasi netto mencapai 175,4 ribu hektare pada tahun 2024.
Dari total tersebut, 92,8% merupakan deforestasi bruto yang mayoritas terjadi di hutan sekunder, biasanya berlokasi dalam kawasan hutan.
Kebakaran hutan serta ekspansi perkebunan, terutama sawit dan tambang, menjadi masalah utama bagi keberlanjutan hutan Kalimantan.
Penyebab Deforestasi di Indonesia
Beberapa faktor yang saling berhubungan menyebabkan deforestasi di Indonesia, seperti alih fungsi lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan tambang batu bara.
Pembalakan liar dan pembakaran hutan juga kian meluas, sering kali memanfaatkan akses terbuka ke area hutan.
Selain itu, pembangunan infrastruktur yang dikaitkan dengan proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) menambah tekanan terhadap keberadaan hutan di Kalimantan.
Baca juga: Sepatu Putih: Aksesori Fashion yang Tak Pernah Lekang oleh Waktu
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: