Minuman energi, yang sering dianggap sebagai solusi tenaga instan, ternyata dapat meningkatkan risiko kesehatan serius seperti stroke, meskipun pada individu tanpa faktor risiko sebelumnya.
Baca juga: Dolby Vision 2: Teknologi Visual Terbaru untuk Pengalaman Menonton yang Lebih Hidup
Hal ini terungkap melalui sebuah laporan kasus dari BMJ Case Reports yang mencatat kejadian mengejutkan pada seorang pria sehat di Inggris yang mengalami stroke setelah rutin mengonsumsi delapan kaleng energy drink per hari.
Kasus Stroke Terkait Konsumsi Energy Drink
Laporan medis mencatat bahwa seorang pria berusia sekitar 50 tahun secara tiba-tiba kolaps dan mengalami kerusakan otak permanen setelah mengonsumsi energy drink berlebihan.
Kejadian ini menimbulkan pertanyaan mengenai penyebabnya, mengingat riwayat medis pria tersebut tidak menunjukkan adanya penyakit berbahaya sebelumnya.
Setelah penyelidikan lebih lanjut, diketahui bahwa pria tersebut mengonsumsi delapan kaleng energy drink setiap harinya, dengan kadar kafein mencapai lebih dari 1.200 mg.
Jumlah tersebut lebih dari tiga kali batas aman yang direkomendasikan bagi orang dewasa.
Dampak Kafein pada Kesehatan
Akumulasi kafein dalam tubuhnya berimplikasi pada lonjakan tekanan darah yang ekstrem, mencapai 254/150 mmHg.
Baca juga: Peluncuran Realme Chill Fan Phone dengan Baterai 15.000 mAh di 828 Global Fan Festival 2025
Angka tersebut memicu stroke pada thalamus, bagian otak yang berperan penting dalam pengaturan gerak dan sensasi, membuat pria tersebut mengalami gejala seperti kehilangan keseimbangan, mati rasa, serta kesulitan dalam berbicara dan berjalan.
Setelah menjalani perawatan darurat, meskipun tekanan darahnya sempat menurun, masalah tersebut muncul kembali setelah beberapa hari.
Hal ini memaksa para dokter untuk lebih mengecek potensi penyebab yang mendasari pengelolaan kondisi pria tersebut.
Regulasi Konsumsi Energy Drink yang Diperlukan
Temuan dari laporan medis tersebut menunjukkan bahwa kadar kafein dan gula yang tinggi dalam energy drink dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah serta meningkatkan risiko terjadinya penggumpalan.
Hasil CT angiogram menunjukkan adanya spasme pada pembuluh darah, menambah bukti dari gangguan vasokonstriksi serebral yang berpotensi menyebabkan stroke.
Dengan meningkatnya tren konsumsi energy drink, para ahli menyatakan bahwa hal ini menjadi isu kesehatan yang perlu dicermati.
Peneliti merekomendasikan adanya regulasi yang lebih ketat terhadap penjualan dan promosi energy drink, terutama yang ditujukan pada kelompok usia muda.
Baca juga: Tantangan Workout 30 Hari Tanpa Alat: Menjaga Kebugaran di Rumah
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: