Selasa, 23 DESEMBER 2025 • 19:04 WIB

Realita Pekerja Migran: Menelusuri Jam Kerja dan Tantangan Kehidupan Sehari-hari

Author

Realita Pekerja Migran: Menelusuri Jam Kerja dan Tantangan Kehidupan Sehari-hari

Bekerja di luar negeri menjadi pilihan bagi banyak orang untuk memajukan karier dan meningkatkan kualitas hidup. Namun, kenyataan mengenai jam kerja dan kehidupan sehari-hari di negara lain seringkali tidak sesuai dengan harapan.

Baca juga: Polisi Selidiki Penjarahan Rumah Eko Patrio di Kuningan

Berdasarkan survei terbaru, banyak pekerja migran mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapi, mulai dari tuntutan jam kerja yang panjang hingga penyesuaian budaya yang mempengaruhi aktivitas mereka.

Variasi Jam Kerja di Berbagai Negara

Jam kerja para pekerja migran bervariasi tergantung lokasi dan sektor industri. Di sektor teknologi informasi, misalnya, seringkali terdapat jadwal fleksibel, namun jam kerja dapat mencapai lebih dari 10 jam sehari.

Sementara itu, pekerja di sektor perhotelan dan layanan sering menghadapi jadwal tidak menentu, dengan jam kerja yang bisa mencapai 60 jam dalam seminggu. Ini menciptakan tantangan serius dalam menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Di negara seperti Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, hukum ketenagakerjaan menetapkan batasan pada jam kerja maksimum. Namun, banyak pekerja merasakan tekanan untuk lembur demi memenuhi target perusahaan.

Baca juga: Kejadian Penjarahan Rumah Uya Kuya: Imbas Video Viral dan Permintaan Maaf yang Disampaikan

Tantangan Penyesuaian Budaya

Penyesuaian budaya menjadi banyak kendala bagi pekerja migran. Perbedaan bahasa dan norma sosial dapat menimbulkan kesulitan dalam interaksi dengan rekan kerja dan lingkungan.

Pekerja dari Indonesia sering mengalami kesenjangan dalam komunikasi dan budaya kerja, yang dapat menambah beban stres. Seorang pekerja asal Indonesia di Jepang mengatakan, 'Budaya kerja di sini sangat berbeda; disiplin waktu sangat dijunjung tinggi.'

Adaptasi ke lingkungan baru ini umumnya memakan waktu yang tidak sedikit, seringkali membutuhkan dukungan dari komunitas setempat untuk membantu proses penyesuaian.

Kesehatan Mental dan Kesejahteraan

Kesehatan mental sangat krusial bagi pekerja di luar negeri. Banyak yang merasakan tekanan dari tuntutan kerja tinggi, ditambah perasaan kesepian karena jauh dari keluarga.

Penelitian menunjukkan bahwa pekerja migran lebih rentan terhadap gangguan mental seperti kecemasan dan depresi akibat berbagai faktor stres. Seorang psikolog menyatakan, 'Dukungan sosial sangat penting untuk menjaga kesehatan mental pekerja di luar negeri.'

Mencari keseimbangan mental dapat dicapai melalui partisipasi dalam kegiatan sosial atau menemukan hobi di luar pekerjaan, yang dapat membantu pekerja beradaptasi dengan lebih baik.

Baca juga: Aksi Nekat Pria Berjaket Ojol Mengguncang Stasiun Cikini

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author

Ajeng

Editor
TERPOPULER
BERITA TERBARU