Ketika seseorang mengalami stres, mereka cenderung mencari pelarian melalui makanan, sebuah fenomena yang didasari oleh mekanisme fisiologis tertentu dalam tubuh. Hormon stres, seperti kortisol, berperan penting dalam meningkatkan rasa lapar dan dorongan untuk mengonsumsinya dalam porsi yang lebih besar.
Baca juga: Kunto Aji Soroti Anggota DPR dari Kalangan Selebritas
Kenaikan kadar hormon ini memicu perubahan mendasar dalam pola makan, yang sering kali berkaitan dengan pencarian kenyamanan emosional di tengah tekanan hidup. Situasi ini menjadi lebih kompleks saat kita mempertimbangkan pengaruh psikologis yang terkait dengan kebiasaan makan berlebihan.
Pengaruh Stres Terhadap Hormonal
Pada saat stres, tubuh manusia melepaskan hormon kortisol yang berperan dalam pengaturan berbagai fungsi, termasuk metabolisme dan rasa lapar. Peningkatan kadar kortisol ini cenderung memicu rasa lapar yang lebih besar, khususnya terhadap makanan yang kaya lemak dan gula.
Penelitian yang dilakukan oleh para ahli menunjukkan bahwa stres kronis dapat memicu perubahan pola makan yang tidak sehat. Dalam banyak kasus, individu lebih cenderung memilih makanan yang tidak bergizi, mencari 'perasaan nyaman' yang sering hilang ketika mereka berada dalam tekanan.
Selanjutnya, kadar insulin dalam tubuh juga kerap meningkat sebagai respons terhadap makanan yang dikonsumsi dalam situasi stres. Jika pola makan ini berlanjut, dapat berkontribusi pada penambahan berat badan dalam jangka panjang.
Baca juga: Mengapa Finfluencer Penting Dalam Meningkatkan Pengetahuan Finansial
Aspek Psikologis dari Makan Berlebihan
Makan berlebihan saat mengalami stres sering kali berfungsi sebagai mekanisme perlindungan psikologis. Banyak individu menemukan kenyamanan melalui konsumsi makanan, terutama setelah berhadapan dengan tekanan yang tinggi.
Sebuah studi menemukan bahwa individu yang mengalami stres cenderung mengonsumsi makanan dalam jumlah yang tidak wajar. Ada anggapan bahwa makanan dapat menawarkan kepuasan emosional yang cepat, yang saat itu sangat diperlukan.
Namun, perasaan bersalah yang sering menyertai setelah makan berlebihan dapat memicu siklus negatif. Ini membuat individu merasa cenderung kembali pada pola yang sama setiap kali situasi stres muncul.
Strategi untuk Mengatasi Kebiasaan Makan Berlebih
Mengelola stres dengan cara yang tepat sangat penting untuk memutus siklus kecenderungan makan berlebihan. Aktivitas fisik, meditasi, atau menjadikan hobi sebagai pelarian dapat membantu meredakan stres tanpa tergantung pada makanan.
Mencatat pola makan dalam jurnal dapat meningkatkan kesadaran tentang kebiasaan makan yang dipicu oleh stres. Dengan mencatat apa yang dimakan serta perasaan yang terkait, individu bisa lebih memahami relasi antara emosi dan pola makan mereka.
Konsultasi dengan ahli gizi atau psikolog juga dapat menjadi langkah positif. Para profesional ini dapat memberikan strategi spesifik untuk menangani pola makan yang dipicu oleh stres dengan cara yang lebih sehat.
Baca juga: Kecerdasan Buatan: Inovasi Baru dalam Perawatan Keguguran
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: