Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ambil langkah cepat dalam menanggulangi peningkatan kasus penyakit pascabanjir di Aceh Tamiang, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), diare, dan infeksi kulit.
Baca juga: Apple Siapkan iPhone 17 Series Tanpa Slot SIM Tray: Ini yang Perlu Diketahui
Berdasarkan laporan terbaru, kondisi sanitasi di lokasi pengungsian sangat memengaruhi kesehatan para korban, mendorong intervensi dari tim medis Kemenkes.
Peningkatan Kasus Penyakit Pascabanjir
Kemenkes mengidentifikasi lonjakan kasus ISPA, diare, dan infeksi kulit di Desa Sekumur, Sekerak. Hal ini terjadi menyusul bencana banjir yang melanda wilayah tersebut, mengakibatkan banyak korban berisiko sakit.
Dokter Relawan Tim Kesehatan Cadangan Kemenkes, dr. Yulia Dewi Irawati, menekankan bahwa sanitasi yang buruk dan lingkungan yang tidak bersih berkontribusi besar terhadap masalah kesehatan ini. Dia juga menyoroti kelompok rentan yang memerlukan perhatian khusus dalam kondisi seperti ini.
Kelompok rentan termasuk bayi, balita, ibu hamil, dan lansia, semua membutuhkan pengobatan yang tepat untuk mencegah penurunan kesehatan lebih lanjut. Tim relawan Kemenkes berupaya keras untuk menghadirkan pelayanan yang mereka butuhkan.
Baca juga: Mengapa Finfluencer Penting Dalam Meningkatkan Pengetahuan Finansial
Respon Tim Relawan Kesehatan
Tim relawan Kemenkes telah melaksanakan serangkaian tindakan medis untuk menangani pasien yang menghadapi kondisi penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes. Tindakan ini dilakukan meskipun situasi darurat tengah berlangsung.
Mereka berkomitmen agar semua pasien tetap mendapatkan perawatan yang dibutuhkan. Ini merupakan bagian dari upaya mencegah perburukan kondisi kesehatan yang lebih serius di tengah krisis.
Selain pengobatan, edukasi tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) juga diterapkan. Ini adalah langkah strategis untuk menjaga kesehatan fisik serta mental masyarakat karena kondisi yang penuh tekanan.
Kondisi Layanan Kesehatan Pasca Banjir
Banjir yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang telah merusak fasilitas kesehatan di Desa Sekumur secara signifikan. Hal ini mengakibatkan keterbatasan dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat setempat.
Bidan Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Sekumur, Siti Aisyah, menyatakan bahwa banyak alat kesehatan hilang, termasuk tempat tidur pasien dan alat medis lainnya, menghambat upaya dokter dan petugas kesehatan dalam merawat pasien.
Sebelum kondisi semakin parah, Kemenkes telah mengirimkan Tim Relawan TCK Batch II untuk memperkuat respons kesehatan. Langkah ini diharapkan dapat menjamin akses masyarakat terhadap layanan medis yang sangat dibutuhkan, terutama bagi mereka yang terisolasi.
Baca juga: Kecerdasan Buatan: Inovasi Baru dalam Perawatan Keguguran
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: