Fenomena ketakutan ketinggalan, yang dikenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out), semakin mencolok dalam interaksi sosial di Indonesia.
Baca juga: Apple Siapkan iPhone 17 Series Tanpa Slot SIM Tray: Ini yang Perlu Diketahui
Hal ini dipicu oleh tekanan untuk selalu mengikuti tren dan acara sosial yang sedang populer di kalangan masyarakat.
Dampak Media Sosial terhadap Persepsi Sosial
Media sosial, khususnya platform seperti Instagram dan TikTok, telah mengubah cara interaksi antar individu. Setiap postingan yang menarik dan glamor menciptakan perasaan persaingan dan urgensi untuk tetap relevan di kalangan pengguna.
Ketika individu melihat teman-teman mereka berlibur ke destinasi menarik atau menghadiri acara yang seru, dorongan untuk ikut serta menjadi semakin kuat. Fenomena ini tidak jarang menyebabkan pengeluaran yang tidak bijak serta pasangan dengan tuntutan sosial yang tinggi.
Sebuah penelitian terbaru menunjukkan keterkaitan antara aktivitas di media sosial dan munculnya perasaan kecemasan serta rendah diri pada individu. 'Mereka merasa tidak bisa bersaing dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna,' ungkap psikolog sosial, Dr. Rina.
Baca juga: Patung Superhero Anggota DPR Ahmad Sahroni Jadi Korban Penjarahan
Ketergantungan Emosional terhadap Pengakuan Sosial
Ketergantungan pada pengakuan sosial terungkap jelas melalui interaksi di media sosial, di mana rasa percaya diri individu sering kali dipengaruhi oleh jumlah 'likes' dan komentar yang didapat sedang mengalami peningkatan.
Sebagian orang merasa tidak lengkap tanpa mendapatkan respons yang positif terhadap unggahan mereka. 'Mungkin kita perlu merenungkan seberapa pentingnya validasi dari orang lain,' jelas Dr. Ahmad, seorang ahli kesehatan mental.
Hasil studi menunjukkan bahwa hubungan antar individu menjadi semakin dangkal. Interaksi yang terjadi secara digital sering kali menggantikan komunikasi tatap muka yang lebih mendalam.
Mengatasi Ketakutan Ketinggalan
Menghadapi fenomena ketakutan ketinggalan ini, individu perlu menyadari dan mengatur ekspektasi terkait penggunaan media sosial. Di samping itu, mengurangi waktu yang dihabiskan di platform ini bisa menjadi langkah efektif untuk menurunkan kecemasan.
Berbicara tentang solusi, mencari hobi baru atau ikut serta dalam komunitas lokal dapat berfungsi sebagai cara untuk memperbaiki kesehatan mental. 'Dengan lebih terlibat secara langsung, kita dapat menemukan makna yang lebih dalam dalam interaksi,' ujar beberapa ahli.
Terakhir, penting untuk menyadari bahwa tidak semua pengalaman hidup perlu diabadikan di media sosial. Memahami bahwa esensi hidup terletak pada momen yang kita rasakan, dan bukan hanya apa yang kita tampilkan kepada orang lain.
Baca juga: Manfaat Asam Hialuronat untuk Kulit: Apa yang Perlu Diketahui
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: