Tren blue matcha kini tengah viral di kalangan masyarakat, menarik perhatian mereka yang peduli kesehatan dan estetika minuman. Pertanyaan yang muncul adalah, apakah blue matcha lebih aman untuk penderita diabetes dibandingkan dengan matcha hijau yang sudah lebih dikenal?
Baca juga: Kemenperin: Izin Penjualan iPhone 17 Belum Diterima, Investasi Apple Tetap Berjalan
Keduanya menawarkan berbagai manfaat kesehatan, tetapi penting untuk memahami perbedaan mendasar antara blue matcha dan matcha hijau. Dari segi kandungan hingga pengaruhnya terhadap gula darah, ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan.
Perbedaan Antara Blue Matcha dan Matcha Hijau
Matcha hijau dan blue matcha berdua hadir dalam bentuk bubuk yang dapat disajikan sebagai minuman panas atau dingin. Selain itu, bahan dasar yang digunakan sangat berbeda; matcha hijau terbuat dari daun teh hijau halus, sedangkan blue matcha berasal dari bunga telang yang sudah dikeringkan.
Nutrisi yang terkandung dalam kedua minuman ini juga bervariasi. Matcha hijau dikenal mengandung kafein dan berbagai nutrisi penting seperti katekin, khususnya epigallocatechin gallate (EGCG), yang dapat membantu meningkatkan metabolisme dan sensitivitas insulin.
Sebaliknya, blue matcha tidak mengandung kafein serta tidak memiliki material aktif yang sama dengan matcha hijau, sehingga efektivitasnya dalam mengatur kadar gula darah belum teruji sekuat matcha hijau. Meskipun bunga telang kaya akan antioksidan, manfaatnya terhadap kontrol glukosa darah masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Baca juga: Sherina Munaf Selamatkan Kucing dari Rumah Uya Kuya yang Terlibat Insiden Perampokan
Efek Konsumsi Terhadap Kadar Gula Darah
Kedua jenis matcha ini secara umum rendah kalori dan tidak mengandung gula alami dalam jumlah besar. Namun, dalam praktiknya, minuman tersebut sering kali ditambah dengan gula, sirup, atau bahan lainnya yang meningkatkan kadar gula darah.
Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi tambahan gula dalam bentuk cair dapat mempercepat penyerapan glukosa dan menimbulkan lonjakan gula darah. Oleh karena itu, baik matcha hijau maupun blue matcha yang disajikan sebagai latte mungkin menyimpan lebih banyak gula dibandingkan yang diharapkan.
Walaupun blue matcha dianggap lebih aman karena bebas kafein, penyajian dengan pemanis tetap merupakan risiko yang perlu diperhatikan. Konsumsi gula berlebihan dapat menyebabkan lonjakan glukosa yang tidak disadari, mengancam penderita diabetes.
Persepsi Tentang Label 'Sehat'
Label yang menyatakan 'minuman sehat' sering kali menciptakan persepsi yang positif di kalangan konsumen. Warna hijau dari matcha dan biru dari blue matcha memunculkan anggapan bahwa keduanya ramah untuk penderita diabetes, tanpa mempertimbangkan kandungan gula yang sebenarnya.
Penelitian tentang 'health halo effect' menunjukan bahwa persepsi kesehatan dapat membuat individu mengonsumsi makanan atau minuman lebih banyak, meskipun kadar gula dalam produk tersebut tinggi. Dalam konteks diabetes, anggapan bahwa suatu minuman aman bisa menjadi salah satu faktor yang mendorong konsumsi gula yang berlebihan.
Sebagai kesimpulan, bagi mereka yang memiliki risiko diabetes, yang paling penting adalah memperhatikan kandungan gula dari suatu minuman. Baik blue matcha maupun matcha hijau dapat dipandang cukup aman jika tidak mengandung pemanis tambahan.
Baca juga: Meningkatkan Produktivitas dengan Fengshui Meja Kerja
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: