Thailand kini berada dalam status risiko tinggi menyusul peningkatan kasus wabah virus Nipah yang ditularkan oleh kelelawar buah.
Baca juga: Kunto Aji Soroti Anggota DPR dari Kalangan Selebritas
Virus ini telah menyebar ke sejumlah negara di Asia Tenggara, memicu perhatian serius untuk pengawasan kesehatan di wilayah tersebut.
Sejarah dan Penyebaran Virus Nipah
Virus Nipah pertama kali terdeteksi pada tahun 1998 dan 1999, menyebabkan wabah terbesar di Malaysia dan Singapura dengan total 265 kasus, di mana 108 di antaranya berakhir fatal.
Ahli virologi Yong Poovorawan dari Universitas Chulalongkorn menyebutkan bahwa kelelawar buah menjadi pembawa virus ini, dengan potensi penularan melalui kontak dengan hewan, terutama babi.
Melalui laporan, virus ini juga dapat menular dari kelelawar ke manusia ketika manusia mengonsumsi buah-buahan yang terkontaminasi, menciptakan risiko tambahan bagi masyarakat.
Baca juga: Sri Mulyani Serukan Cinta kepada Indonesia Meski Alami Insiden Penjarahan
Gejala dan Penularan
Gejala awal virus Nipah meliputi demam tinggi dan ensefalitis, sementara laporan terbaru menunjukkan bahwa gejala dapat berevolusi menjadi pneumonia berat.
Penularan virus berlangsung melalui kontak langsung dengan cairan tubuh dari individu yang terinfeksi, meskipun risiko penularan antar manusia dipandang lebih rendah dibandingkan dengan penyakit pernapasan lainnya.
Prof. Yong mengingatkan, "Tetapi kemungkinannya tidak besar, tidak seperti penyakit pernapasan seperti influenza dan Covid-19, yang menyebar luas."
Dampak Kesehatan Masyarakat dan Ekonomi
Meskipun risiko wabah saat ini dianggap rendah, potensi dampak besar terhadap kesehatan masyarakat dan ekonomi tetap menjadi perhatian utama.
Prof. Yong menjelaskan bahwa, "Meskipun risiko wabah saat ini rendah, wabah yang sebenarnya dapat berdampak serius pada kesehatan masyarakat dan ekonomi."
Oleh karena itu, kewaspadaan dan kesiapsiagaan yang lebih baik di Indonesia sangat diperlukan untuk mencegah kemungkinan penyebaran virus Nipah ke wilayah ini.
Baca juga: Makanan Sehari-hari yang Ternyata Mengandung Gula Tersembunyi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: