Penetapan awal Ramadan di Indonesia akan dipengaruhi oleh pengamatan hilal yang dijadwalkan pada 17 Februari 2026. Observatorium Bosscha menginformasikan bahwa hilal tidak dapat terlihat pada waktu tersebut.
Baca juga: Tips Menciptakan Kamar Kecil yang Nyaman dan Menyenangkan
Kementerian Agama RI mempersiapkan sidang isbat untuk menentukan awal bulan Hijriah, namun pengamatan lanjutan dijadwalkan untuk 18 Februari 2026.
Kementerian Agama dan Proses Sidang Isbat
Kementerian Agama Republik Indonesia memegang tanggung jawab dalam menentukan awal bulan Hijriah, termasuk Ramadan, melalui sidang isbat yang berlangsung secara resmi. Sidang isbat ini dilakukan berdasarkan pengamatan hilal yang mengacu pada data astronomis serta observasi dari berbagai institusi, termasuk Observatorium Bosscha.
Tanggal 17 Februari 2026 akan menjadi momen penting bagi sidang ini, karena hasil pengamatan akan berpengaruh terhadap keputusan awal puasa bagi umat Muslim di tanah air. Proses ini diharapkan dapat menghasilkan keputusan yang akurat agar umat dapat menjalani ibadah dengan tepat.
Selalu ada keterlibatan banyak pihak dalam menentukan awal bulan Hijriah. Hal ini mencakup konsultasi dan kolaborasi antar lembaga yang berkompeten di bidang astronomi, demi menjaga keakuratan dan konsistensi penetapan puasa.
Baca juga: Tantangan Workout 30 Hari Tanpa Alat: Menjaga Kebugaran di Rumah
Observatorium Bosscha Mengkonfirmasi Ketidakmungkinan Melihat Hilal
Observatorium Bosscha, yang merupakan salah satu lembaga pengamat astronomi terkemuka di Indonesia, menjelaskan bahwa hilal tidak mungkin terlihat pada 17 Februari 2026. Hal ini disebabkan oleh posisi Bulan yang terbenam sebelum Matahari, menyebabkan ketidakmungkinan untuk melakukan pengamatan.
"Data peta ketinggian Bulan saat Matahari terbenam di wilayah Indonesia menunjukkan ketinggian Bulan berada pada nilai negatif, dengan kisaran sekitar -1,5 derajat hingga -3,0 derajat," ungkap pihak Observatorium Bosscha. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Bulan tidak cukup tinggi di langit untuk dapat diamati oleh masyarakat secara umum.
Dengan situasi ini, pengamatan lanjutan direncanakan pada 18 Februari 2026, di mana terdapat harapan lebih untuk mengamati tanda-tanda ketampakan bulan baru. Harapan ini menjadi penting bagi pemuka agama dan umat untuk mempersiapkan pelaksanaan ibadah puasa.
Peran Observatorium dalam Penetapan Awal Bulan Hijriah
Sebagai lembaga yang berkiprah dalam bidang astronomi, Observatorium Bosscha memiliki peran signifikan dalam penetapan awal bulan Hijriah. Melaksanakan pengamatan hilal hampir setiap bulannya, observatorium ini bertugas memberikan informasi penting kepada pihak terkait di Kementerian Agama.
Meskipun hasil observasi dari observatorium dijadikan acuan, keputusan akhir mengenai awal Ramadan tetap ditentukan melalui sidang isbat oleh pemerintah. Informasi dari observatorium berfungsi sebagai masukan untuk membantu pemerintah dalam membuat keputusan yang tepat dan berdasarkan data.
Pengamatan secara rutin yang dilakukan oleh Observatorium Bosscha menunjukkan dedikasi dalam memberikan data yang akurat terkait fenomena bulan. Hal ini mendukung proses penetapan awal bulan Hijriah dengan lebih baik, meskipun pada beberapa kasus terdapat tantangan dalam visibilitas hilal.
Baca juga: WhatsApp Perbaiki Bug Keamanan yang Berpotensi Curi Data Pengguna Apple
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: