Selasa, 17 FEBRUARI 2026 • 13:48 WIB

Inovasi Nyamuk Ber-Wolbachia: Menekan Penyebaran DBD di Singapura

Author

Inovasi Nyamuk Ber-Wolbachia: Menekan Penyebaran DBD di Singapura

Proyek inovatif yang digelar di Singapura menunjukkan pencapaian luar biasa dalam pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD). Pelepasan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi bakteri Wolbachia berhasil mengurangi risiko infeksi DBD hingga 70 persen.

Baca juga: Rumah Uya Kuya Dijerang Massa, Permintaan Maaf Tercetus

Di bawah nama Project Wolbachia-Singapore, metode ini diterapkan di lingkungan urban yang padat, menggunakan nyamuk jantan ber-Wolbachia untuk mereduksi jumlah nyamuk liar di kawasan tersebut.

Metodologi Penelitian yang Sistematis

Studi yang dimulai pada pertengahan tahun 2022 dan direncanakan berlangsung hingga akhir 2024 ini membagi 15 kawasan pemukiman besar di Singapura menjadi dua kelompok. Delapan kawasan mendapatkan pelepasan nyamuk jantan ber-Wolbachia secara rutin, sementara tujuh kawasan lainnya dijadikan kelompok kontrol.

Pelepasan nyamuk dilakukan dua kali seminggu. Keunikan strategi ini terletak pada fakta bahwa nyamuk jantan yang dilepaskan tidak menggigit, sehingga tidak menjadi ancaman bagi manusia.

Kawinan antara nyamuk jantan ber-Wolbachia dan nyamuk betina liar menghasilkan telur yang tidak dapat menetas, hal ini berkontribusi dalam menurunkan populasi nyamuk secara signifikan.

Baca juga: Film KPop Demon Hunters Raih Kesuksesan di Netflix

Hasil yang Menggembirakan: Penurunan Populasi Nyamuk

Data yang dikumpulkan dari proyek ini menunjukkan penurunan yang mencolok pada populasi nyamuk betina liar. Di kawasan yang menjadi target intervensi, populasi nyamuk dilaporkan turun hingga 77 persen.

Ketika melihat penularan penyakit, hanya 6 persen penduduk di wilayah intervensi yang terdiagnosis positif DBD setelah enam bulan penerapan. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol yang mencapai 21 persen.

Dalam laporan studi, disebutkan bahwa 'Secara keseluruhan, paparan nyamuk pembawa Wolbachia memangkas risiko dengue sekitar 71 hingga 72 persen dalam periode tiga hingga 12 bulan.'

Pendekatan Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan

Metode pengendalian nyamuk konvensional, seperti penggunaan pestisida atau fogging, sering dianggap tidak berkelanjutan dan berpotensi membahayakan kesehatan manusia serta lingkungan. Sebaliknya, strategi berbasis Wolbachia menawarkan alternatif yang lebih aman.

Bakteri Wolbachia secara alami menghambat reproduksi virus dengue dalam tubuh nyamuk. Hal ini membuat nyamuk pembawa Wolbachia lebih sulit menularkan penyakit kepada manusia.

Peneliti menyatakan bahwa teknologi ini dapat menjadi pelengkap yang ideal untuk metode pengendalian tradisional dan vaksin yang ada, dalam usaha mengatasi DBD serta penyakit lain yang ditularkan oleh nyamuk Aedes.

Baca juga: Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Kesibukan Sehari-hari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU