Puasa Ramadan bukan hanya ritual spiritual, melainkan juga proses yang berpengaruh besar terhadap kesehatan fisik. Selama 30 hari, tubuh melalui perubahan signifikan yang membantu pembersihan berbagai organ.
Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam: Apa yang Perlu Diketahui?
Ahli medis menjelaskan bahwa keteraturan puasa dapat memicu respons positif dari sistem tubuh, termasuk penurunan berat badan dan peningkatan energi. Ini menjadikan Ramadan sebagai kesempatan berharga bagi banyak orang untuk memperbaiki kesehatan mereka.
Proses Awal Puasa: Adaptasi Tubuh
Di fase awal puasa, kadar gula darah dan tekanan darah cenderung menurun. Gejala yang sering dialami termasuk sakit kepala, mual, serta rasa lapar yang intens.
Selama beberapa hari pertama, tubuh mulai beradaptasi dengan pola puasa, memungkinkan sistem pencernaan beristirahat dan fokus pada pemulihan sel yang rusak.
Baca juga: Pentingnya Sarapan Sehat bagi Petinju untuk Mendukung Performa Latihan
Tahap Pertengahan: Penyembuhan Melalui Pembersihan
Setelah beberapa hari, tubuh menjadi lebih terbiasa dengan pola puasa, dan sel-sel darah putih berperan aktif dalam meningkatkan sistem imun. Organ-organ utama seperti ginjal, hati, dan usus besar mulai berfungsi untuk mengeluarkan racun.
Pakar endokrinologi Ahmed BaSaeed mengonfirmasi bahwa puasa dapat berperan dalam mengatur kadar gula darah, khususnya bagi penderita diabetes tipe 2.
Menjelang Akhir Puasa: Memperoleh Energi Baru
Pada sepuluh hari terakhir Ramadan, banyak individu melaporkan adanya peningkatan energi dan daya ingat. Proses detoksifikasi yang terjadi memungkinkan tubuh berfungsi dengan lebih efisien.
Di fase ini, puasa juga dianggap mendukung gaya hidup sehat dengan pengurangan asupan kalori dan gula, yang berpotensi menyebabkan penurunan berat badan pada sebagian orang.
Baca juga: Film KPop Demon Hunters Raih Kesuksesan di Netflix
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: