Salah satu alumni beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di Inggris, yang dikenal dengan inisial DS, mengeluarkan pernyataan yang memicu kontroversi di masyarakat.
Baca juga: Kemenperin: Izin Penjualan iPhone 17 Belum Diterima, Investasi Apple Tetap Berjalan
Pernyataan tersebut mengindikasikan keinginan agar anak-anaknya tidak menjadi Warga Negara Indonesia (WNI), menimbulkan pertanyaan tentang loyalitas dan komitmen alumni kepada bangsa.
Pernyataan Kontraproduktif dari DS
Dalam sebuah video yang viral, DS menyatakan keinginannya agar anak-anak memiliki paspor asing, dengan ucapan, 'Cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu...'.
Pernyataan ini langsung mengundang reaksi negatif di media sosial, memicu diskusi tentang tanggung jawab sosial alumni LPDP terhadap negara.
Meskipun video tersebut telah dihapus, pengaruh dari pernyataan itu telah menyebar luas dan memunculkan kritik tajam terhadap kelemahan komitmen alumni dalam mengabdikan diri kepada tanah air.
Baca juga: Sri Mulyani Serukan Cinta kepada Indonesia Meski Alami Insiden Penjarahan
Profil dan Rekam Jejak Suami DS
Suami DS, API, juga merupakan alumni LPDP yang menyelesaikan gelar PhD-nya pada tahun 2022 di University of Exeter, setelah menerima beasiswa untuk pendidikan S2 di Utrecht University.
Tesisnya berjudul 'Morphodynamics of channel networks in tide-influenced deltas' yang mencantumkan ucapan terima kasih kepada LPDP, namun kini fokusnya pada tanggung jawab pengabdian menjadi sorotan.
Memiliki karier yang menjanjikan sebagai Postdoctoral Researcher, namun masyarakat bertanya-tanya apakah ia dapat merealisasikan komitmennya setelah menyelesaikan studi.
Tindakan LPDP dan Penekanan Komitmen
LPDP mewajibkan alumni untuk berkontribusi setelah pendidikan mereka, dengan adanya dokumen komitmen yang harus diisi, menetapkan keharusan untuk kembali ke Indonesia.
Walaupun ada fleksibilitas bagi alumni untuk melakukan penelitian di luar negeri, mereka bisa menghabiskan maksimal 24 bulan di luar tanpa melanggar komitmen.
Namun, penting bagi LPDP untuk memperketat pengawasan, sebagaimana disampaikan oleh Anggi Afriansyah, sosiolog pendidikan dari BRIN, guna memastikan alumni tidak menyalahgunakan keleluasaan ini dan tetap berkontribusi pada negara.
Baca juga: Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Rutin untuk Menjaga Kesehatan Optimal
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: