Puasa adalah rangkaian praktik yang diikuti oleh banyak orang, terutama selama bulan Ramadan, dan ini berdampak pada metabolisme tubuh kita secara signifikan.
Baca juga: Mengapa Olahraga Penting untuk Kesehatan Mental dan Emosional
Selama berpuasa, tubuh melakukan berbagai adaptasi fisiologis, termasuk perubahan dalam penggunaan energi yang bisa membawa dampak positif bagi kesehatan.
Metabolisme Energi Selama Puasa
Saat puasa, tubuh mulai memanfaatkan cadangan energi yang tersimpan dalam bentuk glikogen. Proses ini dapat berlangsung selama 24 hingga 48 jam tergantung pada durasi puasa.
Setelah kehabisan glikogen, tubuh beralih menggunakan lemak sebagai sumber energi utama. Proses ini disebut lipolisis, yang kemudian menghasilkan keton yang dapat digunakan oleh sel-sel otak.
Selama fase ini, metabolisme tubuh mengalami penurunan karena kebutuhan energi berkurang. Hal ini dapat membantu tubuh untuk lebih efisien dalam menggunakan kalori.
Baca juga: Pengembalian Jam Tangan Mewah Ahmad Sahroni Pasca Penjarahan
Adaptasi Fisiologis Selama Puasa
Tubuh melakukan berbagai adaptasi fisiologis saat berada dalam keadaan puasa. Salah satunya adalah peningkatan hormon pertumbuhan yang berperan dalam pemeliharaan massa otot.
Selain itu, tingkat insulin dalam darah menurun, yang membantu proses pembakaran lemak. Penurunan kadar insulin juga memungkinkan tubuh untuk memiliki sensitivitas yang lebih baik terhadap hormon ini setelah puasa berakhir.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat meningkatkan pembaruan sel dan memperbaiki kerusakan DNA, yang berkontribusi pada kesehatan jangka panjang.
Efek Puasa pada Kesehatan Mental dan Fisik
Puasa tidak hanya mempengaruhi aspek fisik, tetapi juga kesehatan mental. Beberapa studi menyatakan bahwa puasa dapat meningkatkan fokus dan konsentrasi.
Proses metabolisme yang efisien selama puasa sering kali dihubungkan dengan peningkatan suasana hati dan pengurangan stres. Hormon serotonin yang terpapar selama fase ini dapat meningkatkan perasaan bahagia.
Namun, penting untuk diperhatikan bahwa setiap individu dapat merespons puasa secara berbeda. Faktor-faktor seperti usia, tingkat aktivitas, dan kondisi kesehatan dapat memengaruhi hasil yang diperoleh.
Baca juga: Olahraga Low Impact: Solusi Ideal untuk Pemula yang Ingin Sehat
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: