Tantangan Baru Satelit Starlink: Risiko Jatuh dan Kerusakan Lingkungan
Ambisi Elon Musk dalam mengisi orbit Bumi dengan konstelasi satelit Starlink menghadapi masalah serius terkait jatuhnya satelit-satelit tersebut ke permukaan Bumi. Menurut ahli astrofisika Jonathan McDowell, setiap hari setidaknya 1-2 satelit Starlink mengalami penurunan orbit, dan angka ini diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan peluncuran satelit baru.
Baca juga: Patung Superhero Anggota DPR Ahmad Sahroni Jadi Korban Penjarahan
Siklus hidup setiap satelit Starlink diperkirakan sekitar lima tahun, yang berarti lima satelit usang berpotensi jatuh setiap harinya. Kondisi ini menciptakan risiko baru bagi keselamatan manusia dan lingkungan, terutama terkait dengan serpihan satelit yang akan masuk ke atmosfer Bumi.
Jonathan McDowell, seorang ahli astrofisika di Smithsonian, menegaskan bahwa dengan peluncuran lebih dari 8.000 satelit Starlink oleh SpaceX sejak 2019, jumlah satelit yang jatuh seiring berjalannya waktu terus meningkat. Beliau memperkirakan bahwa setiap hari akan ada lima satelit usang yang jatuh ke atmosfir, menambah angka risiko bagi permukaan Bumi.
Setiap peluncuran baru memperbesar potensi jatuhnya satelit, yang menciptakan tantangan baru terkait keselamatan manusia. Dengan meningkatnya jumlah satelit, perlu adanya perhatian khusus untuk prosedur pemantauan dan keamanan dalam peluncuran satelit di masa depan.
Baca juga: Tindakan Kecil yang Mengungkapkan Cinta kepada Pasangan
Laporan dari Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) mengindikasikan bahwa pada tahun 2025, potensi sekitar 28.000 serpihan satelit dapat menembus atmosfer setiap tahunnya. Dengan bertambahnya jumlah serpihan tersebut, bahkan diestimasi bahwa ada kemungkinan 61 persen untuk menderita cedera atau kematian akibat serpihan satelit.
Selain itu, proses pembakaran satelit saat memasuki atmosfer bisa menghasilkan elemen logam yang merusak lapisan ozon, menambah dampak negatif terhadap lingkungan. McDowell menekankan, 'Ketidakpastian soal masalah ini cukup besar, ada kemungkinan seluruh atmosfer lapisan atas rusak,' yang memberi gambaran akan besarnya risiko yang dihadapi.
Di balik jatuhnya satelit terletak ancaman yang lebih besar yaitu sindrom Kessler, yang muncul akibat padatnya orbit dengan satelit. Ketika satelit bertabrakan, dampaknya dapat memicu serangkaian tabrakan dengan satelit lainnya, yang semakin memperburuk jumlah sampah di orbit.
Fenomena ini membawa risiko besar dan dapat menciptakan medan bahaya di sekitar Bumi, sehingga meningkatkan perhatian para ilmuwan dan pihak berwenang terhadap situasi yang sudah kritis ini. Sindrom Kessler bukan hanya masalah teknis, melainkan juga isu yang harus diperhatikan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan luar angkasa.
Baca juga: Film KPop Demon Hunters Raih Kesuksesan di Netflix
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: