Senin, 19 JANUARI 2026 • 14:25 WIB

Huawei Kembali Memimpin Pasar Smartphone di China dengan Strategi Inovatif

Author

Huawei Kembali Memimpin Pasar Smartphone di China dengan Strategi Inovatif

Huawei berhasil mempertahankan posisi tertinggi sebagai pemimpin pasar smartphone di China pada tahun 2025, menguasai pangsa pasar sebesar 16,4 persen dengan pengiriman mencapai 46,7 juta unit.

Baca juga: Realme Luncurkan Smartphone dengan Baterai Jumbo dan Teknologi Pendingin Terbaru

Kemenangan ini menandakan kebangkitan signifikan setelah menghadapi sejumlah tantangan akibat sanksi yang dijatuhkan oleh pemerintah AS selama lima tahun terakhir.

Dominasi Pasar Smartphone di Tahun 2025

Data terbaru dari International Data Corporation (IDC) menunjukkan bahwa Huawei melewati Apple, yang mencatat pangsa pasar 16,2 persen, dengan selisih yang tipis.

Pada kuartal IV-2025, Apple sempat mencatatkan diri sebagai pemimpin dengan 21 persen berkat tingginya permintaan terhadap produk iPhone 17, namun untuk keseluruhan tahun, Huawei tetap menjadi pemimpin.

Di belakang mereka, Vivo, Xiaomi, dan Oppo juga bersaing ketat dengan pengiriman masing-masing 46,1 juta, 43,8 juta, dan 43,4 juta unit.

Baca juga: Pentingnya Sarapan Sehat bagi Petinju untuk Mendukung Performa Latihan

Faktor Pendukung Kebangkitan Huawei

Kebangkitan Huawei di pasar smartphone berakar pada sejumlah strategi jangka panjang yang diperkenalkan dalam beberapa tahun terakhir.

Dukungan untuk jaringan 5G, penggunaan chipset Kirin yang diproduksi sendiri, dan peningkatan lini produk premium seperti Mate dan Pura menjadi elemen pendorong penting untuk kinerja mereka.

Sebagaimana dinyatakan IDC, 'Huawei dan Apple sama-sama menunjukkan bahwa kekuatan merek premium menjadi faktor kunci keberhasilan dalam jangka panjang, terutama di tengah kondisi biaya produksi yang terus meningkat.'

Tantangan di Pasar yang Lesu

Meskipun Huawei berhasil memimpin pasar, kondisi keseluruhan pasar smartphone di China belum sepenuhnya pulih, dengan total pengiriman turun 0,6 persen menjadi sekitar 285 juta unit.

Kenaikan harga chip memori dan biaya produksi mendorong merek ponsel untuk mempertimbangkan kenaikan harga atau penundaan peluncuran produk baru, yang berdampak pada minat konsumen.

Para analis memperingatkan potensi tantangan yang lebih besar di tahun 2026, dengan perlambatan siklus penggantian ponsel dan peningkatan biaya komponen.

Baca juga: Destinasi Terbaik untuk Menyaksikan Sunset di Indonesia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU