Kamis, 26 FEBRUARI 2026 • 14:05 WIB

Menyongsong Era Kecerdasan Buatan: Dari AGI hingga Tantangan Energi

Author

Menyongsong Era Kecerdasan Buatan: Dari AGI hingga Tantangan Energi

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) telah menunjukkan kemajuan pesat yang signifikan, dengan pengenalan artificial general intelligence (AGI) menjadi salah satu pencapaian yang ditunggu-tunggu. Prediksi menunjukkan bahwa keberadaan AGI tak lagi jauh di depan mata.

Baca juga: Desta Dukung Tuntutan 17+8 Menyusul Hujaan di Media Sosial

Sam Altman, CEO OpenAI, menekankan pentingnya AGI yang setara dengan kecerdasan manusia, mampu beradaptasi dan mentransfer kemampuan ke mesin lainnya. Dalam konteks ini, AI diharapkan dapat memberikan dampak positif di berbagai sektor, termasuk kesehatan dan pendidikan.

Artificial General Intelligence dan Masa Depan AI

Artificial General Intelligence (AGI) didefinisikan sebagai kecerdasan buatan yang memiliki kemampuan setara dengan kecerdasan manusia. Dengan keberadaan AGI, AI tidak lagi memerlukan pelatihan berulang, melainkan bisa beradaptasi dengan situasi baru dan mentransfer keterampilan yang diperoleh.

Altman juga mengisyaratkan bahwa kemajuan menuju kecerdasan super (ASI) akan terjadi dalam waktu dekat, di mana AI akan melebihi kemampuan manusia dalam memecahkan masalah kompleks. Ungkapan tersebut menekankan pentingnya pergeseran paradigma dalam cara kita memanfaatkan teknologi.

Seyogianya, masyarakat harus bersiap menghadapi berbagai perubahan signifikan yang dibawa oleh kemajuan ini. Dengan potensi transformasi yang ditawarkan AGI, berbagai sektor seperti kesehatan, pendidikan, dan industri diharapkan dapat meraih keuntungan.

Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor dengan Transfer Alexander Isak

Kekhawatiran Terkait Sumber Daya dan Energi

Diskusi mengenai pengembangan AI tidak lepas dari isu konsumsi sumber daya, terutama penggunaan air dalam operasional pusat data. Altman membantah rumor yang menyatakan bahwa penggunaan model AI seperti ChatGPT menghabiskan banyak air, menyebutnya sebagai 'gila' dan tidak berdasar.

"Anda melihat hal-hal ini di internet yang mengatakan 'jangan gunakan ChatGPT, menghabiskan 17 galon air untuk tiap kueri' atau apapun. Ini sama sekali tidak benar, benar-benar gila, tidak ada hubungannya dengan kenyataannya," ungkap Altman.

Lebih lanjut, Altman menekankan perlunya memprioritaskan penggunaan sumber energi terbarukan, seperti energi nuklir, angin, dan matahari untuk menghadapi tantangan konsumsi energi yang akan meningkat seiring dengan adopsi AI yang semakin luas.

Ide Pusat Data Orbital dan Tantangan Infrastruktur

Dalam acara tersebut, gagasan mengenai pusat data yang beroperasi di luar angkasa juga menjadi sorotan. Altman menilai ide ini tidak relevan dan sulit diterapkan di era saat ini.

"Pusat data orbital tidak akan relevan dalam skala besar dekade ini, karena perhitungan kasar biaya peluncuran dan sulitnya memperbaiki GPU yang rusak di antariksa," tegasnya. Pernyataan ini menunjukkan tantangan yang dihadapi pengembangan infrastruktur AI.

Hal ini mencerminkan batasan teknologi yang masih ada dan perlunya inovasi yang relevan dan praktis untuk mendukung kemajuan AI secara berkelanjutan.

Baca juga: Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Kesibukan Sehari-hari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU