BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Sabtu, 21 FEBRUARI 2026 • 14:13 WIB

Peneliti Kembangkan Mini Otak Buatan untuk Meneliti Penyakit Saraf

Peneliti Kembangkan Mini Otak Buatan untuk Meneliti Penyakit SarafPeneliti Kembangkan Mini Otak Buatan untuk Meneliti Penyakit Saraf

Sekelompok ilmuwan telah berhasil melatih gumpalan kecil jaringan otak buatan untuk menyelesaikan beberapa tugas sederhana dengan menggunakan sinyal listrik. Temuan ini menandai langkah maju dalam memahami bagaimana penyakit saraf mempengaruhi fungsi belajar otak.

Baca juga: Rumah Uya Kuya Dijerang Massa, Permintaan Maaf Tercetus

Mini otak yang dikembangkan dalam penelitian ini berasal dari sel punca tikus, dan meskipun tidak dapat berpikir atau merasakan, ia mampu berinteraksi dengan sinyal listrik, membuka peluang baru bagi peneliti dalam bidang neurologi.

Pengembangan Mini Otak Buatan

Dalam penelitian ini, mini otak buatan yang digunakan bukanlah hasil dari jaringan manusia, melainkan diproduksi menggunakan sel punca tikus yang dikembangkan menjadi kelompok kecil jaringan otak. Sel punca, yang dikenal karena kemampuannya untuk berkembang biak, mendukung penciptaan gumpalan jaringan yang dapat berfungsi pada tingkat tertentu.

Walaupun mini otak ini tidak memiliki kompleksitas untuk berpikir atau merasakan, ia tetap mampu mengirim dan menerima sinyal-sinyal listrik. Proses ini memungkinkan penelitian yang lebih dalam mengenai bagaimana koneksi di dalam mini otak berubah sebagai respons terhadap berbagai rangsangan eksternal.

Baca juga: Sri Mulyani Serukan Cinta kepada Indonesia Meski Alami Insiden Penjarahan

Metodologi Penelitian dan Temuan

Dalam eksperimen tersebut, sinyal listrik digunakan untuk memberi tahu mini otak tentang kemiringan dari tiang virtual yang diprogram. Respon yang dihasilkan dari mini otak diterjemahkan menjadi perintah untuk menggerakkan kereta virtual ke kiri atau kanan sesuai kemiringan yang terdeteksi.

"Kami mencoba memahami dasar-dasar bagaimana neuron dapat disesuaikan secara adaptif untuk memecahkan masalah," jelas Ash Robbins, Peneliti Robotika dan Kecerdasan Buatan dari University of California Santa Cruz. Penelitian ini berjudul Goal-Directed Learning in Cortical Organoids dibagi menjadi tiga kelompok percobaan yang mencakup kondisi tanpa umpan balik, umpan balik acak, dan umpan balik adaptif berdasarkan kinerja.

Hasil Penelitian dan Implikasi

Dari hasil yang diperoleh, mini otak tanpa panduan hanya mencapai tolok ukur kinerja sebesar 2,3 persen, sementara yang mendapat umpan balik acak hanya mencapai 4,4 persen. Namun, mini otak dengan umpan balik adaptif mencapai hasil yang jauh lebih baik dengan 46 persen.

"Ketika kami bisa secara aktif memilih rangsangan pelatihan, kami benar-benar bisa membentuk jaringan untuk memecahkan masalah," tambah Robbins. Meskipun hasil ini sangat menjanjikan, penelitian ini juga menunjukkan keterbatasan, di mana mini otak yang dilatih dapat 'lupa' dalam waktu 45 menit jika tidak terstimulasi.

Baca juga: Olahraga Teratur dan Kesehatan Jantung: Pentingnya Aktivitas Fisik

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Peneliti Kembangkan Mini Otak Buatan untuk Meneliti Penyakit Saraf

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!